Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm <p>Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) is a journal in the field of health sciences under the Faculty of Medicine, Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) which has scientific coverage in the fields of basic medical science and medical education. Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) is published twice yearly (<strong>January and July)</strong>. The incoming manuscript will be checked for similarity with the Plagiarism Checker application. The review process is carried out using <em>peer review</em> technique.</p> <p><strong>Indexed by :</strong></p> <div style="display: flex; align-items: center; gap: 12px; flex-wrap: wrap;"><a href="https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/12512" target="_blank" rel="noopener"> <img style="width: 150px; height: 52px; object-fit: contain;" src="/public/site/images/bk44ab/sinta2.png"> </a> <a href="https://scholar.google.com/citations?user=uCVAhFUAAAAJ&amp;hl=en&amp;authuser=2" target="_blank" rel="noopener"> <img style="width: 150px; height: 52px; object-fit: contain;" src="https://jurnal.ilmubersama.com/public/site/images/oris/google-scholar.png"> </a> <a href="https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/journal/view/29192" target="_blank" rel="noopener"> <img style="width: 150px; height: 52px; object-fit: contain;" src="https://jurnal.ilmubersama.com/public/site/images/oris/garuda.png"> </a></div> en-US dr.akbar9@gmail.com (Surya Akbar) rosyadi.aziz@uisu.ac.id (Rosyadi Aziz Rahmat) Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 OJS 3.1.2.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR TERJADINYA DERMATITIS KONTAK IRITAN PADA PEMULUNG SAMPAH DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) DESA TERJUN KABUPATEN DELI SERDANG, 2025 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1101 <p><em>Irritant Contact Dermatitis (ICD) is a skin health problem often experienced by scavengers due to continuous exposure to irritant substances without adequate protection. This condition can disrupt work activities and have long-term health impacts. This study aims to determine the risk factors for irritant contact dermatitis in scavengers in Terjun Village. The study used a descriptive method with a cross-sectional approach and was conducted in Terjun Village, Hamparan Perak District, Deli Serdang Regency, North Sumatra, from November 2024–January 2025. The sampling technique used total sampling with a total of 58 respondents. Data analysis was performed univariately. The results showed that most respondents were aged &lt;45 years (50%), male (58.6%), and had low education (51.7%). The majority of respondents did not comply with using personal protective equipment (PPE) (65.5%) and had poor personal hygiene (63.8%). The incidence of irritant contact dermatitis was found in 65.5% of respondents. The conclusion of this study shows that the high incidence of DKI in scavengers is related to low compliance with the use of PPE and poor personal hygiene.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Dermatitis Kontak Iritan (DKI) merupakan masalah kesehatan kulit yang sering dialami pemulung akibat paparan zat iritan secara terus-menerus tanpa perlindungan yang memadai. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas kerja dan berdampak pada kesehatan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko terjadinya dermatitis kontak iritan pada pemulung di Desa Terjun. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan <em>cross sectional</em> dan dilaksanakan di Desa Terjun, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pada November 2024–Januari 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah responden 58 orang. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia &lt;45 tahun (50%), berjenis kelamin laki-laki (58,6%), dan berpendidikan rendah (51,7%). Mayoritas responden tidak patuh menggunakan alat pelindung diri (65,5%) dan memiliki personal hygiene yang buruk (63,8%). Kejadian dermatitis kontak iritan ditemukan pada 65,5% responden. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tingginya kejadian DKI pada pemulung berkaitan dengan rendahnya kepatuhan penggunaan APD dan buruknya personal hygiene.</p> Alvi Faundra, Bambang Susanto, Syarifah Harahap, Anna Yusria Copyright (c) 2026 ALVI FAUNDRA https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1101 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 HUBUNGAN PEMERIKSAAN PROFIL LIPID DALAM DARAH DENGAN DERAJAT HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT UMUM HAJI MEDAN TAHUN 2023-2024 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1082 <p><em>Hypertension is a condition in which there is a chronic increase in blood pressure (over a long period of time) which can cause pain in a person and can even lead to death.). Lipid profile is a test of lipoproteins in blood serum consisting of total cholesterol, HDL, LDL, and TG. This study aims to determine the relationship of blood lipid profile test with the severity of hypertension&nbsp; at haji medan general hospital. This study uses an observational analytical approach with cross-sectional. The sample of this study is 27 samples that meet the inclusion and exclusion criteria. The data analysis used is chi-square. The results of this study showed that from 27 samples of hypertensive patients and complete lipid profiles, which were measured at normal hypertension HDL levels of 40.7% and 59.3% abnormal, LDL levels of 4% normal and 85.2% abnormal, triglyceride levels of 51.9% normal and 48.1% abnormal and total cholesterol levels of 40.7% normal and 59.3% abnormal. The results of the chi-square statistical test between HDL, LDL, triglycerides and cholesterol were obtained with a p-value of 0.189, 0.204, 0.098, 0.027, respectively. There is a difference in cholesterol levels with the degree of hypertension and there is no difference in HDL, LDL and Triglyceride levels with the degree of hypertension at haji medan general hospital 2023-2024.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Hipertensi merupakan kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis yang dapat menyebabkan kesakitan pada seseorang dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Profil lipid adalah Pemeriksaan lipoprotein dalam serum darah yang terdiri dari kolesterol total, HDL, LDL, dan trigliserida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemeriksaan profil lipid dalam darah dengan derajat hipertensi di Rumah Sakit Umum Haji&nbsp; Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik dengan cross- secsional. Sampel penelitian ini sebanyak 27 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisa data yang digunakan adalah chi- square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 27 sampel pasien hipertensi dan profil lipid lengkap, yang diukur pada kadar HDL derajat hipertensi sebanyak normal 40,7% dan 59,3% abnormal, Pada kadar LDL sebanyak 4% normal dan 85,2% abnormal, pada kadar trigliserida sebanyak 51,9% normal dan 48,1 % abnormal dan pada kadar kolesterol total 40,7 % normal dan 59,3% abnormal. Hasil uji statistic chi-square antara HDL, LDL, trigliserida dan kolesterol didapatkan masing-masing nilai p-value 0,189, 0,204, 0,098, 0,027. Terdapat hunungan kadar kolesterol dengan derajat hipertensi dan tidak terdapat Perbedaan kadar HDL, LDL dan trigliserida dengan derajat hiperteni di rumah sakit Haji Medan 2023-2024.</p> Ilham Kurnia Saleh Daulay, Selly Oktaria, Lucia Aktalina, Anna Yusria, Nondang Purnama Siregar Copyright (c) 2026 Ilham Kurnia Saleh Daulay, Selly Oktaria, Lucia Aktalina, Anna Yusria, Nondang Purnama Siregar https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1082 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TERHADAP IMUNISASI DASAR LENGKAP DI DESA SUNGAI KUBU HULU KECAMATAN KUBU KABUPATEN ROKAN HILIR PROVINSI RIAU https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1167 <p>Complete basic immunization is an important effort in preventing infectious diseases among infants and toddlers. The success of immunization programs is strongly influenced by the role of mothers, particularly their level of knowledge regarding the importance of immunization, immunization schedules, and the benefits of immunization for children’s health. A low level of maternal knowledge may result in incomplete basic immunization. This study aimed to determine the relationship between mothers’ level of knowledge and the completeness of basic immunization among infants in Sungai Kubu Hulu Village, Kubu District, Rokan Hilir Regency, Riau Province. This study employed an analytical design with a cross-sectional approach. The study population consisted of all mothers who had infants aged 0–18 months in Sungai Kubu Hulu Village, totaling 55 respondents, with total sampling used as the sampling technique. Data were collected using a questionnaire to assess mothers’ knowledge levels and an observation sheet to determine the infants’ basic immunization status. Data analysis was performed using the Chi-Square test. The results showed that most mothers had a good level of knowledge (35 respondents; 63.6%), and most infants had complete basic immunization status (45 infants; 81.8%). The Chi-Square test yielded a p-value of 0.006 (p &lt; 0.05), indicating a significant relationship between mothers’ level of knowledge and the completeness of basic immunization. In conclusion, there is a significant relationship between mothers’ level of knowledge and the completeness of basic immunization among infants in Sungai Kubu Hulu Village, Kubu District, Rokan Hilir Regency, Riau Province.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Imunisasi dasar lengkap merupakan salah satu upaya penting dalam pencegahan penyakit menular pada bayi dan balita. Keberhasilan pelaksanaan imunisasi sangat dipengaruhi oleh peran ibu, terutama tingkat pengetahuan ibu mengenai pentingnya imunisasi, jadwal pemberian, serta manfaat imunisasi bagi kesehatan anak. Rendahnya tingkat pengetahuan ibu dapat berdampak pada ketidaklengkapan imunisasi dasar pada bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu terhadap kelengkapan imunisasi dasar pada bayi di Desa Sungai Kubu Hulu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 0–18 bulan di Desa Sungai Kubu Hulu sebanyak 55 orang, dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner untuk menilai tingkat pengetahuan ibu dan lembar observasi untuk mengetahui status imunisasi dasar bayi. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 35 orang (63,6%) dan bayi dengan status imunisasi dasar lengkap sebanyak 45 orang (81,8%). Hasil uji Chi-Square diperoleh nilai p value = 0,006 (p &lt; 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi di Desa Sungai Kubu Hulu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau.</p> Monica Selly Adinda Pratama, Mayang Sari Ayu, Budi Kurniawan Copyright (c) 2026 Monica Selly Adinda Pratama https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1167 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI MINUMAN MANIS DENGAN KEJADIAN OVERWEIGHT PADA SISWA/I SMK NEGERI 2 MEDAN https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1135 <p><em>Overweight is a growing health problem among adolescents and may lead to long-term adverse health outcomes. Sugar-sweetened beverages (SSBs) contain high amounts of added sugars and are suspected to contribute to excessive weight gain. This study aimed to analyze the association between sugar-sweetened beverage consumption and the occurrence of overweight among students of SMK Negeri 2 Medan. This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach involving 70 respondents selected using total sampling. Sugar-sweetened beverage consumption was assessed using a Food Frequency Questionnaire (FFQ), while nutritional status was determined based on the World Health Organization (WHO) Body Mass Index-for-Age Z-score (BAZ). Data were analyzed using Spearman’s rho correlation test. The results showed a statistically significant association between sugar-sweetened beverage consumption and overweight (p = 0.017), with a positive but weak correlation (r = 0.285). Students with higher frequency of sugar-sweetened beverage consumption tended to have a higher likelihood of being overweight. In conclusion, sugar-sweetened beverage consumption contributes to an increased risk of overweight among adolescents.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Overweight merupakan salah satu masalah kesehatan yang prevalensinya terus meningkat pada remaja dan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang. Konsumsi minuman manis (sugar-sweetened beverages/SSB) yang mengandung gula tambahan tinggi diduga berperan dalam peningkatan risiko kelebihan berat badan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsumsi minuman manis dengan kejadian overweight pada siswa/i SMK Negeri 2 Medan. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional terhadap 70 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Konsumsi minuman manis diukur menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (BMI-for-Age Z-score/BAZ) standar WHO. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi minuman manis dengan kejadian overweight (p = 0,017) dengan nilai koefisien korelasi r = 0,285, yang menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan korelasi lemah. Responden dengan frekuensi konsumsi minuman manis yang lebih tinggi cenderung memiliki status gizi overweight. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi minuman manis berkontribusi terhadap peningkatan risiko overweight pada remaja.<strong><br></strong></p> Sausan Syahira, Ira Cinta Lestari, Refi Sulistiasari, Farah Diba Copyright (c) 2026 Sausan Syahira https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1135 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 ANALISIS PENERIMAAN KLAIM BPJS KESEHATAN DI RS HERMINA MEDAN TAHUN 2025 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1226 <p><em>The issue of pending BPJS Kesehatan claims is a crucial issue that directly impacts the financial stability and service efficiency of hospitals. Delayed claims not only hamper the institution's cash flow, but also disrupt operational continuity and medical staff satisfaction. This study aims to analyze the acceptance of BPJS Kesehatan claims at Hermina Hospital in Medan in 2025 and assess the effectiveness of policy implementation and standard operating procedures (SOPs) in the claims process. This study uses a descriptive qualitative approach with in-depth interviews and is supplemented by a documentation study of SOP documents and hospital claim reports. The data were analyzed using thematic coding techniques (open coding, axial coding, and selective coding). The results showed that the most frequently emerging themes were incomplete medical records due to delayed uploading of supporting examination results to the system; inaccurate diagnosis codes; and coders' limited understanding of diagnosis determination. The documentation study showed that the implementation of SOPs was not yet optimal because internal audits were still conducted retrospectively. The conclusion that can be drawn is that the problem of pending BPJS claims is multidimensional and systemic (administrative, technical, and managerial aspects). Efforts to improve claim effectiveness through ongoing training for coders and verifiers, optimization of internal audits, and strengthening the digitization of SIMRS-based claim processes need to be carried out.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Permasalahan pending klaim BPJS Kesehatan merupakan isu krusial yang berdampak langsung terhadap stabilitas keuangan dan efisiensi pelayanan rumah sakit. Proses klaim yang tertunda tidak hanya menghambat arus kas institusi, tetapi juga mengganggu kesinambungan operasional dan kepuasan tenaga medis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerimaan klaim BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Hermina Medan tahun 2025 serta menilai efektivitas pelaksanaan kebijakan dan prosedur operasional standar (SPO) dalam proses klaim. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam serta dilengkapi dengan studi dokumentasi terhadap dokumen SOP dan laporan klaim rumah sakit. Data dianalisis menggunakan teknik tematik (open coding, axial coding, dan selective) coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tema yang paling sering muncul adalah ketidaklengkapan dokumen rekam medis akibat hasil pemeriksaan penunjang yang terlambat diunggah ke sistem; ketidaktepatan kode diagnosis; dan keterbatasan pemahaman coder terhadap penentuan diagnosis. Studi dokumentasi menunjukkan bahwa implementasi SPO belum optimal karena audit internal masih dilakukan secara retrospektif. Kesimpulan yang dapat diambil adalah permasalahan pending klaim BPJS bersifat multidimensional dan sistemik (aspek administrasi, teknis, dan manajerial). Upaya peningkatan efektivitas klaim melalui pelatihan berkelanjutan bagi koder dan verifikator, optimalisasi audit internal, serta penguatan digitalisasi proses klaim berbasis SIMRS perlu dilakukan.</p> Rafika Aulia Nisa, Arifah Devi Fitriani, Asriwati Copyright (c) 2026 Rafika Aulia Nisa, Arifah Devi Fitriani, Asriwati https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1226 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 KORELASI KADAR TROPONIN I DENGAN KADAR SERUM KALSIUM PADA SINDROMA KORONER AKUT https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1289 <p><em>Acute coronary syndrome (ACS) encompasses a spectrum of clinical conditions resulting from a sudden reduction in coronary blood flow, primarily due to rupture of an atherosclerotic plaque followed by intraluminal thrombus formation. It represents a cardiovascular emergency that requires prompt diagnosis and timely management to reduce morbidity and mortality. Advances in diagnostic technology have refined cardiac troponin assays, improving their sensitivity and specificity for detecting and quantifying cardiomyocyte injury. Calcium plays a critical role in multiple biological processes associated with cardiovascular disease, including platelet adhesion and aggregation, coagulation, enzymatic activity, myocardial contractility, and cardiomyocyte apoptosis. This study aimed to evaluate the correlation between troponin I levels and serum calcium levels in patients with ACS. A cross-sectional study was conducted at H. Adam Malik General Hospital, Medan, between February and March 2024. The study included 40 patients diagnosed with ACS who met the inclusion and exclusion criteria. Troponin I and serum calcium levels were measured in all participants. Statistical analysis was performed using Spearman’s correlation test. Among the 40 participants, the majority were aged over 55 years, predominantly male (72.5%), and 67.5% had a history of smoking. The median troponin I level was 6.09 ng/mL (range 0.12–15), while the median serum calcium level was 8.86 mg/dL (range 7.4–11.5). A weak and non-significant negative correlation was observed between troponin I and serum calcium levels (r = −0.133, p = 0.415). In conclusion, no significant correlation was found between troponin I levels and serum calcium levels in patients with ACS.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak<br></strong>Sindrom koroner akut (SKA) merupakan spektrum kondisi klinis yang disebabkan oleh penurunan aliran darah koroner secara tiba-tiba akibat ruptur plak aterosklerotik dan pembentukan trombus intraluminal. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan kardiovaskular yang membutuhkan diagnosis dan penanganan cepat untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas Kemajuan teknologi telah menyempurnakan tes Troponin dan meningkatkan akurasinya dalam mendeteksi dan mengukur cedera kardiomiosit. Kalsium memainkan peran penting dalam banyak proses biologis yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskular, termasuk adhesi dan agregasi trombosit, pembekuan darah, aktivitas enzimatik, kontraksi jantung, dan apoptosis kardiomiosit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi kadar troponin I dengan kadar serum kalsium pada SKA. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional di RSUP H.Adam Malik Medan dari Februari 2024-Maret 2024. Subjek dalam penelitian ini adalah 40 pasien yang terdiagnosa SKA yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Pasien diperiksakan troponin I dan serum kalsium. Analisa data dengan korelasi Spearman.&nbsp; Dari subjek penelitian 40 pasien, sebagian besar subjek penelitian berusia diatas 55 tahun, sebagian besar adalah laki-laki (72,5%), riwayat merokok sebesar 67,5%. Kadar median troponin I 6,09 ng/ml (0,12-15). Kadar median kalsium 8,86(7,4-11,5) mg/dL. Terdapat korelasi negatif lemah dan tidak signifikan antara troponin I dengan kalsium (r = -0,133 , p = 0,415). Tidak terdapat korelasi antara troponin I dengan kalsium.<br><strong><br></strong></p> Hadiyatur Rahma Copyright (c) 2026 Hadiyatur Rahma https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1289 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 KARAKTERISTIK HASIL PEMERIKSAAN PROFIL LIPID DAN GULA DARAH PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DI RSU HAJI MEDAN TAHUN 2024 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1241 <p><em>Ischemic stroke is the most common type of stroke and contributes substantially to mortality and disability. Dyslipidemia and hyperglycemia play important roles in the pathophysiology of ischemic stroke and may influence clinical outcomes. This study aimed to describe the characteristics of lipid profile and random blood glucose levels among ischemic stroke patients at RSU Haji Medan in 2024. A descriptive retrospective design was applied using medical record data. The study included 83 eligible patients. The results showed that the largest age group was 55–62 years (28.9%) with male predominance (62.7%). Total cholesterol levels were mostly normal (49.4%), followed by borderline (33.7%) and high (16.9%). LDL levels were predominantly near optimal (31.3%) and borderline (30.1%), although high and very high levels were also observed. Low HDL levels were found in 48.2% of patients, while triglyceride levels were largely normal (62.7%). Random blood glucose levels were mainly normal (45.8%), with considerable proportions of prediabetes (27.7%) and diabetes (26.5%). In conclusion, abnormalities in lipid and glucose metabolism remain common in ischemic stroke patients, with dyslipidemia and hyperglycemia representing prominent metabolic characteristics.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Stroke iskemik merupakan jenis stroke yang paling sering terjadi dan berkontribusi besar terhadap angka kematian serta kecacatan. Dislipidemia dan hiperglikemia diketahui berperan dalam patofisiologi stroke iskemik serta memengaruhi kondisi klinis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik hasil pemeriksaan profil lipid dan gula darah sewaktu pada pasien stroke iskemik di RSU Haji Medan tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan retrospektif terhadap data rekam medis. Sampel penelitian terdiri dari 83 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia terbanyak adalah 55–62 tahun (28,9%) dengan dominasi laki-laki (62,7%). Kadar kolesterol total sebagian besar berada pada kategori normal (49,4%), diikuti borderline (33,7%) dan tinggi (16,9%). Kadar LDL didominasi kategori mendekati optimal (31,3%) dan borderline (30,1%), namun kadar tinggi hingga sangat tinggi tetap ditemukan. Kadar HDL rendah dijumpai pada 48,2% pasien, sementara trigliserida umumnya normal (62,7%). Kadar glukosa darah sewaktu menunjukkan kategori normal (45,8%), dengan proporsi pre-diabetes (27,7%) dan diabetes (26,5%). Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa gangguan metabolisme lipid dan glukosa masih sering ditemukan pada pasien stroke iskemik, dengan dislipidemia dan hiperglikemia sebagai karakteristik metabolik yang menonjol.</p> Andhyka Kurniawan, Tezar Samekto Darungan, Dewi Pangestuti, Hardy Hasibuan Copyright (c) 2026 Andhyka Kurniawan, Tezar Samekto Darungan, Dewi Pangestuti, Hardy Hasibuan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1241 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN TINGKAT REGULASI EMOSI PADA REMAJA DI SMK NEGERI 2 MEDAN https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1215 <p><em>The use of social media among adolescents continues to increase and may influence psychological conditions, including the ability to regulate emotions. Exposure to negative content, social comparison, and high intensity of use may affect adolescents’ emotional regulation abilities. This study aimed to determine the relationship between the intensity of social media use and the level of emotional regulation among adolescents at SMK Negeri 2 Medan in 2025. This research employed a quantitative analytic method with a cross-sectional design. The sample consisted of adolescents aged 15–18 years selected using purposive sampling. Data were collected using the Social Media Use Integration Scale (SMUIS) to measure the intensity of social media use and the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) to assess emotional regulation. Data were analyzed using the Pearson correlation test. The results showed that the majority of respondents were male adolescents. The intensity of social media use was categorized as high, while the level of emotional regulation was categorized as low. Statistical analysis indicated that there was no significant relationship between the intensity of social media use and emotional regulation (p = 0.096; p &gt; 0.05), with a correlation coefficient of r = 0.171, indicating a very weak positive relationship. In conclusion, there was a very weak positive relationship between the intensity of social media use and emotional regulation among adolescents at SMK Negeri 2 Medan; however, the relationship was not statistically significant.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Penggunaan media sosial pada remaja semakin meningkat dan berpotensi memengaruhi kondisi psikologis, termasuk kemampuan dalam mengatur emosi. Paparan konten negatif, perbandingan sosial, serta intensitas penggunaan yang tinggi dapat berdampak pada kemampuan regulasi emosi remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dengan tingkat regulasi emosi pada remaja di SMK Negeri 2 Medan tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analitik dan desain cross sectional. Sampel terdiri dari remaja berusia 15–18 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Social Media Use Integration Scale (SMUIS) untuk mengukur intensitas penggunaan media sosial dan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) untuk mengukur regulasi emosi. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki. Intensitas penggunaan media sosial berada pada kategori tinggi, sedangkan tingkat regulasi emosi berada pada kategori rendah. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dengan regulasi emosi (p = 0,096; p &gt; 0,05) dengan nilai koefisien korelasi r = 0,171 yang menunjukkan hubungan positif dengan tingkat kekuatan sangat lemah. Kesimpulannya, terdapat hubungan positif dengan tingkat kekuatan sangat lemah antara intensitas penggunaan media sosial dengan regulasi emosi pada remaja di SMK Negeri 2 Medan, namun hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik.</p> Selia Nazila, Meri Susanti, Bania Maulina, Selly Oktaria Copyright (c) 2026 Selia Nazila https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1215 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 PERBEDAAN KARAKTERISTIK INDIVIDU ANTARA PENGGUNA DAN BUKAN PENGGUNA ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR) PADA IBU DI DESA PADANG MANINJAU TAHUN 2025 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1300 <p><em>The use of intrauterine devices (IUDs) as a long-acting contraceptive method remains relatively low in the community, despite their high effectiveness and safety. The low utilization of IUDs is presumed to be influenced by various individual and social factors. This study aimed to analyze factors associated with IUD use in Padang Maninjau Village, Aek Kuo District, North Labuhanbatu Regency in 2025. This study employed a quantitative method with a cross-sectional design. A total of 25 respondents were selected using a total sampling technique. Data were collected using structured questionnaires and analyzed using the Fisher Exact test with a significance level of α = 0.05. The results showed that there were significant associations between age, education, occupation, knowledge, and husband’s support with IUD use (p value &lt; 0.05). Maternal knowledge and husband’s support demonstrated stronger associations with IUD use compared to other variables. In conclusion, IUD use is associated with both individual and social factors. However, these findings should be interpreted with caution due to the small sample size and uneven data distribution. Therefore, improving health education and enhancing husband involvement in family planning programs are recommended to increase IUD utilization.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak<br></strong>Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) sebagai metode kontrasepsi jangka panjang masih tergolong rendah di masyarakat, meskipun memiliki efektivitas tinggi dan aman digunakan. Rendahnya penggunaan AKDR diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik individu maupun sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan AKDR di Desa Padang Maninjau, Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 25 responden yang dipilih dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Fisher Exact dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, dan dukungan suami dengan penggunaan AKDR (p-value &lt; 0,05). Pengetahuan ibu dan dukungan suami menunjukkan keterkaitan yang lebih kuat dengan penggunaan AKDR dibandingkan variabel lainnya. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan AKDR berkaitan dengan faktor individu dan sosial. Namun, hasil penelitian ini perlu diinterpretasikan secara hati-hati mengingat ukuran sampel yang relatif kecil dan distribusi data yang tidak merata. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kesehatan serta keterlibatan suami dalam program keluarga berencana untuk meningkatkan penggunaan AKDR.<strong><br></strong></p> Ronny Ajartha Tarigan, Andhika Budi Sentoso, Wilda Wahyudi Siregar Copyright (c) 2026 Ronny Ajartha Tarigan, Andhika Budi Sentoso, Wilda Wahyudi Siregar https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1300 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 POTRET BUDAYA KESELAMATAN KERJA: PRAKTIK APD DAN PREVALENSI GANGGUAN KULIT NELAYAN TRADISIONAL TANJUNG BALAI ASAHAN https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1305 <p><em>Traditional fishermen face a high risk of skin health disorders due to extreme exposure to ultraviolet radiation and sea salinity. This study aims to capture the occupational safety culture through the practice of Personal Protective Equipment (PPE) usage and the prevalence of skin disorders among traditional fishermen in Tanjung Balai Asahan. The research method used was quantitative with a cross-sectional design. A total of 110 fishermen were selected as samples using the total sampling technique. The results showed that PPE usage practices were still low and partial, with 54.5% of fishermen only wearing two types of PPE while working. The majority of fishermen prioritized the use of boots (68.2%) and hats (62.7%), but ignored long-sleeved clothing (54.5% did not use) and gloves (52.7% did not use). The prevalence of skin disorders was found to be very significant at 64.5%, with the dominant types being dermatitis (32.7%), followed by scabies (18.2%) and tinea corporis (13.6%). The conclusion of this study indicates a correlation between low comprehensive PPE compliance and high skin morbidity rates. Occupational safety education interventions focusing on changes in risk perception and improvement of personal hygiene are needed to reduce morbidity rates in the fishing community.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Nelayan tradisional menghadapi risiko tinggi gangguan kesehatan kulit akibat pajanan radiasi ultraviolet dan salinitas air laut yang ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk memotret budaya keselamatan kerja melalui praktik penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan prevalensi gangguan kulit pada nelayan tradisional di Tanjung Balai Asahan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain potong lintang (<em>cross-sectional</em>). Sampel penelitian sebanyak 110 nelayan diambil menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik penggunaan APD masih rendah dan bersifat parsial, di mana 54,5% nelayan hanya menggunakan dua jenis APD selama bekerja. Mayoritas nelayan memprioritaskan penggunaan sepatu boot (68,2%) dan topi (62,7%), namun mengabaikan pakaian lengan panjang (54,5% tidak menggunakan) dan sarung tangan (52,7% tidak menggunakan). Prevalensi gangguan kulit ditemukan sangat signifikan sebesar 64,5%, dengan jenis gangguan dominan berupa dermatitis (32,7%), diikuti skabies (18,2%) dan tinea corporis (13,6%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan adanya keterkaitan antara rendahnya kepatuhan APD yang komprehensif dengan tingginya angka kesakitan kulit. Diperlukan intervensi edukasi keselamatan kerja yang berfokus pada perubahan persepsi risiko dan peningkatan personal hygiene untuk menekan angka morbiditas pada komunitas nelayan.</p> Aynil Paydah Harahap, Marlina Elfa Lubis, Rian Fedriko Ginting, Apriliani Copyright (c) 2026 Aynil Paydah Harahap, Marlina Elfa Lubis, Rian Fedriko Ginting, Apriliani https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1305 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA DI POSYANDU HUSADA MANDIRI https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1181 <p><em>Sleep quality plays an important role in maintaining cognitive function in older adults. Age-related changes often lead to sleep disturbances that may negatively affect memory, attention, and thinking ability, thereby reducing daily functioning and quality of life. This study aimed to assess sleep quality, cognitive function, and the relationship between sleep quality and cognitive function among older adults at the Husada Mandiri Elderly Health Post, Sungai Keranji Village. An analytical observational study was conducted involving older adults registered at the health post. Sleep quality was measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), while cognitive function was assessed using the Mini-Mental State Examination (MMSE). The relationship between variables was analyzed using the Spearman correlation test with a 95% confidence level. The findings showed that most older adults had poor sleep quality, and some experienced cognitive impairment. Most participants were aged 60–69 years, female, and had an elementary school education. Statistical analysis demonstrated a significant relationship between sleep quality and cognitive function (p&lt;0.05). In conclusion, poor sleep quality is associated with a higher risk of cognitive impairment among older adults. Improving sleep quality may help maintain cognitive function and support better quality of life in older adults.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Kualitas tidur merupakan faktor penting yang memengaruhi fungsi kognitif pada lanjut usia (lansia). Seiring bertambahnya usia, lansia rentan mengalami gangguan tidur yang dapat berdampak pada penurunan memori, perhatian, dan kemampuan berpikir, sehingga berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari serta menurunkan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kualitas tidur, tingkat fungsi kognitif, serta hubungan antara kualitas tidur dan fungsi kognitif pada lanjut usia di Posyandu Lansia Husada Mandiri Desa Sungai Keranji. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan subjek lansia yang terdaftar di posyandu tersebut. Kualitas tidur diukur menggunakan kuesioner <em>Pittsburgh Sleep Quality Index</em> (PSQI), sedangkan fungsi kognitif dinilai menggunakan <em>Mini Mental State Examination</em> (MMSE). Analisis hubungan dilakukan menggunakan uji Spearman dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas lansia memiliki kualitas tidur buruk dan sebagian mengalami penurunan fungsi kognitif. Sebagian besar responden berusia 60–69 tahun (65,0%), berjenis kelamin perempuan (52,5%), dan memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar (65%). Uji <em>Spearman</em> menunjukkan nilai p sebesar 0,04 (p&lt;0,05) yang menandakan adanya hubungan signifikan antara kualitas tidur dan fungsi kognitif. penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara kualitas tidur dan fungsi kognitif pada lansia. Lansia dengan kualitas tidur buruk memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan fungsi kognitif.</p> Winda Asni, Anna Yusria, Tiffani Tantina Lubis, Sinta Veronica Copyright (c) 2026 Winda Asni, Anna Yusria, Tiffani Tantina Lubis, Sinta Veronica https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1181 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 HUBUNGAN POLA ISTIRAHAT TERHADAP PRODUKSI ASI PADA IBU MENYUSUI DI KLINIK OS MEDIKA TAHUN 2025 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1301 <p><em>Breast milk is the primary source of nutrition for infants; however, the success of exclusive breastfeeding remains a global challenge. One factor that may be associated with breast milk production is the rest pattern of breastfeeding mothers, which is closely related to the balance of lactation hormones. Physiologically, inadequate rest may increase stress hormone levels such as cortisol, which can inhibit the action of prolactin and oxytocin, thereby disrupting the production and ejection of breast milk. This study aimed to analyze the relationship between rest patterns and breast milk production among breastfeeding mothers at OS Medika Clinic in 2025. This study employed a quantitative method with a cross-sectional design. A total of 20 breastfeeding mothers were selected using a total sampling technique. Data were collected through structured questionnaires and analyzed using the Fisher Exact test. The results showed that 60% of respondents had good rest patterns and 65% had smooth breast milk production. Bivariate analysis revealed a significant relationship between rest patterns and breast milk production (p = 0.037). Mothers with good rest patterns tended to have smoother breast milk production compared to those with poor rest patterns. In conclusion, there was a significant relationship between rest patterns and breast milk production among breastfeeding mothers. Therefore, education regarding the importance of adequate rest during the breastfeeding period should be strengthened as an effort to support optimal breast milk production.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi utama bagi bayi, namun keberhasilan pemberian ASI eksklusif masih menjadi tantangan global. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan produksi ASI adalah pola istirahat ibu menyusui, yang berkaitan dengan keseimbangan hormon laktasi. Kurangnya istirahat secara fisiologis dapat meningkatkan kadar hormon stres seperti kortisol yang menghambat kerja hormon prolaktin dan oksitosin sehingga mengganggu proses produksi dan pengeluaran ASI. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola istirahat dengan produksi ASI pada ibu menyusui di Klinik OS Medika Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 20 ibu menyusui yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60% responden memiliki pola istirahat yang baik dan 65% memiliki produksi ASI yang lancar. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola istirahat dengan produksi ASI (p = 0,037). Ibu dengan pola istirahat baik cenderung memiliki produksi ASI yang lebih lancar dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola istirahat kurang. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola istirahat dan produksi ASI pada ibu menyusui. Oleh karena itu, edukasi mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan istirahat selama masa menyusui perlu ditingkatkan sebagai upaya mendukung kelancaran produksi ASI.</p> Ronny Ajartha Tarigan, Andhika Budi Sentoso, Wilda Wahyuni Siregar Copyright (c) 2026 Ronny Ajartha Tarigan, Andhika Budi Sentoso, Wilda Wahyuni Siregar https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1301 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 GAMBARAN STATUS NUTRISI BERDASARKAN IMT DAN PROGNOSTIC NUTRITIONAL INDEX (PNI) PADA PASIEN KANKER KOLOREKTAL https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1097 <p><em>Colorectal cancer continues to be a significant public health concern because of its high incidence and death rates. Nutritional condition is known to significantly influence patient prognosis, response to treatment, and overall quality of life. BMI and PNI are commonly used parameters that reflect both nutritional and immune status. This study was conducted to characterize the nutritional status of colorectal cancer patients using Body Mass Index (BMI) and Prognostic Nutritional Index (PNI) at Haji Adam Malik General Hospital, Medan. A descriptive study with a cross-sectional design was conducted using secondary data obtained from patients’ medical records. The study involved 91 colorectal cancer patients who fulfilled the inclusion and exclusion criteria. Variables assessed included sex, age, BMI, serum albumin concentration, total lymphocyte count, and PNI. Data were analyzed descriptively and reported as frequency and percentage distributions. The majority of patients were male (52.7%), with the highest proportion aged 51–60 years (34.1%). Most patients had a normal BMI (63.7%), while underweight and overweight statuses were found in equal proportions (13.2%). More than half of the patients had normal albumin levels (56.0%) and lymphocyte counts (71.4%). Despite this, low PNI values (&lt;46.6), reflecting compromised nutritional and immune status, were identified in 59.3% of patients. Although most patients showed normal BMI, a large proportion had low PNI, emphasizing the need for comprehensive nutritional assessment using both BMI and PNI.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Kanker kolorektal hingga kini tetapamenjadi salah satu permasalahan kesehatanautama karena tingginya angka kejadian dan tingkat mortalitas.. Kondisi nutrisi diketahui berpengaruh besar terhadap luaran klinis, keberhasilan terapi, serta kualitas hidup pasien. Status gizi dan imunitas dapat dinilai melalui IMT dan Prognostic Nutritional Index (PNI). Penelitian ini memiliki salah satu tujuan untuk mengetahui gambaran status nutrisi pada pasien kanker kolorektal berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Prognostic Nutritional Index (PNI). Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang memiliki rancangan potong lintang, menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien kanker kolorektal. Sebanyak 91 pasien yang memenuhiakriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan sebagai sampel penelitian. Variabel yang dianalisis meliputi jenis kelamin, usia, berat badan, tinggi badan, IMT, kadar albumin serum, jumlah limfosit total, serta nilai PNI. Data akan dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien berjenis kelamin laki-laki (52,7%), dengan kelompok usia terbanyak berada pada rentang 51–60 tahun (34,1%).Kadar albumin dan jumlah limfosit umumnya berada dalam batas normal, namun lebih dari separuh pasien memiliki nilai PNI &lt;46,6. Meskipun IMT sebagian besar pasien normal, banyak pasien menunjukkan PNI rendah, sehingga penilaian nutrisi menggunakan IMT dan PNI penting dalam pemantauan kondisi dan prognosis pasien kanker kolorektal.</p> Agustin Agung Ayu, Andri Iskandar Mardia, Zaimah Z. Tala, Doaris Inggrid Marbun Copyright (c) 2026 Agustin Agung Ayu, Andri Iskandar Mardia, Zaimah Z. Tala, Doaris Inggrid Marbun https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1097 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 PERSEPSI PASIEN TERHADAP EDUKASI PRAOPERATIF PADA TINDAKAN BEDAH ELEKTIF: SEBUAH STUDI KUALITATIF https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1337 <p><em>Preoperative education in elective surgery is a crucial nursing intervention to reduce anxiety and enhance patient readiness. However, patients' perceptions of the education they receive are often not adequately explored. This study aims to explore patient perceptions of preoperative education for elective surgery at Dr. Pirngadi Regional Hospital, Medan. This study employed a qualitative approach with a descriptive phenomenological design. Eight participants were selected through purposive sampling based on inclusion criteria. Data were collected through semi-structured in-depth interviews until saturation was reached. Data analysis used Braun and Clarke's thematic analysis. Three main themes were identified: (1) a gap between expectations and reality of information, where education was procedural, limited, and rushed; (2) the vital role of family support in building readiness, yet not formally accommodated; (3) preferences for contextual and empathetic educational methods, including visual aids, polite and local language, and staged delivery. Patients' perceptions indicate that preoperative education at Dr. Pirngadi Regional Hospital, Medan, remains not patient- and family-centered. Hospitals need to develop multimodal education standard procedures, involve families, and enhance nurses' empathetic communication to improve the quality of the perioperative experience.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Edukasi praoperatif pada tindakan bedah elektif merupakan intervensi keperawatan penting untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kesiapan pasien. Namun, persepsi pasien terhadap edukasi yang diterima seringkali tidak tergali secara memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi pasien terhadap edukasi praoperatif pada tindakan bedah elektif di RSUD Dr. Pirngadi Medan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi deskriptif. Partisipan berjumlah 8 orang yang dipilih secara purposive sampling sesuai kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur hingga mencapai titik jenuh. Analisis data menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke. Ditemukan tiga tema utama: (1) kesenjangan antara harapan dan realitas informasi, di mana edukasi bersifat prosedural, terbatas, dan terburu-buru; (2) peran vital dukungan keluarga dalam membangun kesiapan, namun belum diakomodasi secara formal; (3) preferensi metode edukasi yang kontekstual dan empatik, meliputi media visual, bahasa santun dan lokal, serta penyampaian bertahap. Persepsi pasien menunjukkan bahwa edukasi praoperatif di RSUD Dr. Pirngadi Medan masih belum berpusat pada pasien dan keluarga. Rumah sakit perlu menyusun standar prosedur edukasi multimodal, melibatkan keluarga, serta meningkatkan komunikasi empatik perawat untuk meningkatkan kualitas pengalaman perioperatif.</p> Handi Efendi, Zaim Anshari Copyright (c) 2026 Handi Efendi, Zaim Anshari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1337 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 ANALISIS KENDALA AKSES LAYANAN KESEHATAN PADA MASYARAKAT SEBAGAI DASAR PERUMUSAN KEBIJAKAN PELAYANAN https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1349 <p><em>Access to healthcare services remains a major challenge in achieving equitable health outcomes in Indonesia, despite the implementation of the National Health Insurance (JKN) program. This study aimed to analyze the barriers to healthcare access experienced by communities as a basis for formulating responsive healthcare service policies. A qualitative descriptive approach was employed, involving six informants selected purposively from JKN participants who had experience accessing healthcare services. Data were collected through in-depth semi-structured interviews and analyzed using data reduction, data display, and conclusion-drawing techniques. Source triangulation was applied to ensure data validity. The findings revealed four major barriers to healthcare access: geographical, economic, administrative, and health literacy barriers. Geographical and transportation issues, including long distances to healthcare facilities, inadequate road conditions, limited transportation options, and mobility constraints among older adults, emerged as the most prominent challenges. Economic burdens related to transportation costs, complex referral procedures, lengthy waiting times, and limited understanding of healthcare procedures further hindered healthcare utilization. These interconnected barriers contribute to persistent inequalities in healthcare access. The study concludes that healthcare policies should be context-specific and evidence-based, focusing on improving transportation infrastructure, simplifying administrative procedures, strengthening community-based health education, and providing greater support for vulnerable populations. Such efforts are essential to promote equitable and accessible healthcare services for all communities.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Akses terhadap layanan kesehatan masih menjadi tantangan utama dalam mewujudkan pemerataan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia meskipun Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kendala akses layanan kesehatan yang dialami masyarakat sebagai dasar perumusan kebijakan pelayanan kesehatan yang responsif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Informan penelitian berjumlah enam orang yang dipilih secara purposive, yaitu masyarakat peserta JKN yang pernah mengakses layanan kesehatan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam menggunakan pedoman semi-terstruktur dan dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan adanya empat kendala utama dalam akses layanan kesehatan, yaitu kendala geografis, ekonomi, administratif, dan literasi kesehatan. Kendala geografis dan transportasi berupa jarak fasilitas kesehatan yang jauh, kondisi jalan yang kurang memadai, keterbatasan sarana transportasi, serta keterbatasan mobilitas pada kelompok lansia menjadi hambatan yang paling dominan. Selain itu, biaya transportasi, prosedur administrasi yang kompleks, antrean pelayanan yang panjang, serta rendahnya pemahaman masyarakat mengenai prosedur dan hak pelayanan kesehatan turut memengaruhi pemanfaatan layanan kesehatan. Berbagai kendala tersebut saling berkaitan dan memperkuat ketimpangan akses layanan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang kontekstual dan berbasis kebutuhan masyarakat melalui peningkatan infrastruktur transportasi, penyederhanaan prosedur pelayanan, penguatan edukasi kesehatan berbasis komunitas, serta perhatian khusus terhadap kelompok rentan. Upaya tersebut penting untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih adil, merata, dan mudah diakses oleh seluruh masyarakat.</p> Marlina Elfa Lubis, Zaim Anshari Copyright (c) 2026 Marlina Elfa Lubis, Zaim Anshari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1349 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 PREVALENSI KARAKTERISTIK PASIEN ASMA DI POLI PARU RSU. MADANI MEDAN https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1350 <p><em>Asthma prevalence currently tends to increase in urban areas due to environmental pollution and lifestyle changes, contributing to 30% of deaths from chronic respiratory diseases based on the 2023 Medan City Health Profile. However, the variability of patient characteristics at the Pulmonology Clinic of Madani General Hospital due to pollution and sociodemographics has not been reported for the most recent period. This study aims to obtain prevalence data on the characteristics and sociodemographics of asthma outpatients at the Pulmonology Clinic of Madani General Hospital Medan. The study utilizes a descriptive research design with a cross-sectional approach among asthma outpatients at the Pulmonology Clinic of Madani General Hospital Medan. Univariate data analysis was performed on the characteristics of 50 asthma patients. The gender was dominated by males (58%), the predominant age group was 46–55 years old (34%), and the majority held employed status (70%). Genetic factors contributed strongly, with a family history of asthma at 60%, while the history of allergies was low (24%), indicating a non-atopic phenotype. Furthermore, the level of asthma control was categorized with uncontrolled status reaching 46% and partially controlled at 36%. Conclusion of this study are the dominant demographic consists of productive-aged males with a tendency toward a non-allergenic asthma phenotype influenced by genetic factors. The poor level of asthma control, affecting nearly half of the population, highlights the urgent need for treatment adherence evaluation and more intensive clinical education</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Asma saat ini cenderung&nbsp; meningkat di perkotaan akibat polusi lingkungan dan perubahan gaya hidup, berkontribusi pada 30% kematian akibat penyakit pernapasan kronis berdasarkan Profil Kesehatan Kota Medan 2023. Namun, variabilitas karakteristik pasien di Poli Paru RSU Madani akibat polusi dan sosiodemografi belum ada dilaporkan untuk periode terbaru. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data&nbsp; prevalensi&nbsp; karakteristik , sosiodemografi&nbsp; pasien asma&nbsp; rawat jalan di Poli Paru RSU. Madani Medan. Desain penelitian&nbsp; deskriptif&nbsp; dengan pendekatan Cross-sectional pada pasien asma rawat jalan di poli Paru di RSU Madani Medan. Analisa data&nbsp; univariat terhadap karakteristik terhadap 50 pasien asma. Jenis kelamin didominasi laki-laki (58%), kelompok usia 46–55 tahun (34%), dan berstatus bekerja (70%). Faktor genetik berkontribusi kuat dengan riwayat keluarga sebesar 60%, sedangkan riwayat alergi rendah (24%) yang mengindikasikan fenotipe non-atopi. Selain itu, tingkat kontrol asma tergolong&nbsp; status tidak terkontrol mencapai 46% dan terkontrol sebagian sebesar 36%. Kesimpulan peneiltian ini adalah bahwa jenis kelamin yang mendoninasi laki-laki usia produktif dengan kecendungan fenotif asma non- alergenik yang dipengaruhi&nbsp; faktor genetik. Tingkat kontrol asma yang tidak terkontrol/terkontrol sebagian mencapai&nbsp; hampir separuh populasi menegaskan perlunya dilakukannya evaluasi kepatuhan terapi dan edukasi klinis yang lebih intensif.</p> Refi Sulistiasari Copyright (c) 2026 Refi Sulistiasari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1350 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 MODULASI NEUROENDOKRIN TERHADAP FREKUENSI EJAKULASI: TINJAUAN SISTEMATIS TENTANG KINETIKA ANDROGEN, SENSITIVITAS RESEPTOR ANDROGEN, DAN IMPLIKASI METABOLIK https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1201 <p><em>This systematic review aims to critically evaluate the physiological impacts of ejaculatory abstinence (semen retention) versus frequent ejaculation on the Hypothalamic-Pituitary-Gonadal (HPG) axis, serum testosterone levels, and androgen receptor (AR) density. A systematic review was conducted following PRISMA 2020 guidelines and registered in PROSPERO (CRD42024336252). Electronic searches were performed across seven databases: PubMed/MEDLINE, Scopus, EMBASE, Google Scholar, ScienceDirect, Cochrane Library, and Web of Science, from inception to December 2024. Grey literature was also searched via OpenGrey and ProQuest Dissertations. Two independent reviewers screened studies and extracted data. Risk of bias was assessed using RoB 2 for RCTs, Newcastle-Ottawa Scale for observational studies, and SYRCLE for animal studies. Fifteen studies met the inclusion criteria. Short-term abstinence (7 days) induces a transient supraphysiological testosterone spike (~145% of baseline), which returns to homeostasis thereafter. Sexual satiety reversibly downregulates androgen receptors in the hypothalamic medial preoptic area (MPOA), with recovery within 72 hours. Frequent ejaculation correlates with reduced testosterone synthesis only in dietary zinc deficiency. Frequent ejaculation (≥21/month) was associated with a 20% reduction in prostate cancer risk. The relationship between ejaculation and androgen status is biphasic and homeostatic. Periodic short-term abstinence may resensitize neuroendocrine pathways, whereas regular ejaculation supports prostate health. Clinicians should consider these findings when counseling patients regarding sexual and hormonal health.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengevaluasi secara kritis dampak fisiologis dari pantang ejakulasi (penahanan semen) dibandingkan dengan ejakulasi yang sering terhadap sumbu Hipotalamus-Hipofisis-Gonad (HPG), kadar testosteron serum, dan kepadatan reseptor androgen (AR). Tinjauan sistematis ini dilakukan sesuai dengan pedoman PRISMA 2020 dan terdaftar di PROSPERO (CRD42024336252). Pencarian elektronik dilakukan di tujuh basis data: PubMed/MEDLINE, Scopus, EMBASE, Google Scholar, ScienceDirect, Cochrane Library, dan Web of Science, sejak awal hingga Desember 2024. Literatur abu-abu juga dicari melalui OpenGrey dan ProQuest Dissertations. Dua peninjau independen menyaring studi dan mengekstrak data. Risiko bias dievaluasi menggunakan RoB 2 untuk uji klinis terkontrol acak (RCT), Skala Newcastle-Ottawa untuk studi observasional, dan SYRCLE untuk studi pada hewan. Lima belas studi memenuhi kriteria inklusi. Abstinensi jangka pendek (7 hari) memicu lonjakan testosteron di atas fisiologis yang sementara (~145% dari baseline), yang kembali ke homeostasis setelahnya. Kepuasan seksual secara reversibel menurunkan ekspresi reseptor androgen di area preoptik medial hipotalamus (MPOA), dengan pemulihan dalam 72 jam. Ejakulasi yang sering hanya berkorelasi dengan penurunan sintesis testosteron pada defisiensi seng diet. Ejakulasi yang sering (≥21 kali/bulan) dikaitkan dengan penurunan risiko kanker prostat sebesar 20%. Hubungan antara ejakulasi dan status androgen bersifat biphasik dan homeostasis. Pantang seksual jangka pendek secara berkala dapat meningkatkan sensitivitas jalur neuroendokrin, sementara ejakulasi secara teratur mendukung kesehatan prostat. Para tenaga medis sebaiknya mempertimbangkan temuan ini saat memberikan konseling kepada pasien mengenai kesehatan seksual dan hormonal.</p> Muhammad Arief Pratama, Rosa Zorayatamin Damanik, Zanurul Rifhan Copyright (c) 2026 Muhammad Arief Pratama, Rosa Zorayatamin Damanik, Zanurul Rifhan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1201 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 PANDANGAN DIAGNOSTIK DAN MEDIKOLEGAL TENTANG PROLAPSUS UTEROVAGINAL SEBAGAI DUGAAN KASUS PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP ANAK https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1239 <p><em>Uterovaginal prolapse (UVP) in children is a rare condition that can pose diagnostic challenges, particularly in clinical and forensic contexts. This study aims to evaluate, through a literature review, whether &nbsp;Uterovaginal prolapse can be considered a potential indicator of child sexual abuse or is instead a pathological condition that requires careful differentiation. The method used was a literature review involving a search of 30 databases. From the search results, a number of relevant articles were identified. Through a selection process based on inclusion and exclusion criteria, seven scientific articles were selected for further analysis. Several reports in the literature emphasize the importance of a comprehensive evaluation because the similarity of these symptoms can lead to bias in both clinical and forensic interpretations. These findings indicate that Uterovaginal prolapse may be indicative of child sexual abuse, as it shares clinical similarities with certain conditions, underscoring the importance of differential diagnosis. Therefore, physicians, particularly those in the forensic field, must conduct a comprehensive evaluation to distinguish between pathological conditions and potential sexual abuse. The development of clear clinical guidelines and interdisciplinary collaboration between medical professionals and law enforcement are crucial for improving diagnostic accuracy and preventing inappropriate legal consequences.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Prolaps uterovaginal (UVP) pada anak merupakan kondisi langka yang dapat menimbulkan tantangan diagnostik, terutama dalam konteks klinis dan forensik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah UVP dapat menjadi dugaan dari <em>child sexual abuse</em> atau justru merupakan kondisi patologis yang perlu dibedakan secara hati-hati, melalui tinjauan literatur. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan penelusuran pada 30 basis data. Dari hasil penelusuran, diperoleh sejumlah artikel yang relevan, melalui proses seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 7 artikel ilmiah dipilih untuk dianalisis lebih lanjut<strong>.</strong> Beberapa laporan dalam literatur menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh karena kesamaan gejala tersebut dapat menimbulkan bias dalam interpretasi klinis maupun forensik. Temuan ini menunjukkan bahwa &nbsp;Prolaps uterovaginal dapat menjadi dugaan <em>child sexual abuse</em>, karena di beberapa kondisi memiliki kemiripan klinis sehingga pentingnya diagnosis banding. Oleh karena itu, dokter, khususnya dalam bidang forensik, perlu melakukan evaluasi yang komprehensif untuk membedakan antara kondisi patologis dan kemungkinan kekerasan seksual. Pengembangan pedoman klinis yang jelas serta kerja sama interdisipliner antara tenaga medis dan penegak hukum sangat penting untuk meningkatkan akurasi diagnostik dan mencegah dampak hukum yang tidak tepat.</p> Syafira Nurfajri Istiqomah, Ahmad Yudianto, Duta Nurdibyanandaru, Rury Eryna Putri, Wahyuni Dyah Parmasari Copyright (c) 2026 Syafira Nurfajri Istiqomah, Ahmad Yudianto, Duta Nurdibyanandaru, Rury Eryna Putri, Wahyuni Dyah Parmasari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1239 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 MANIFESTASI KLINIS DAN TATALAKSANA UVEITIS TUBERKULOSIS https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1275 <p><em>Tuberculous uveitis is a form of extrapulmonary tuberculosis characterized by a broad spectrum of clinical manifestations and significant diagnostic challenges. The condition may result from direct invasion of Mycobacterium tuberculosis into ocular tissues or from an immune-mediated response to mycobacterial antigens. Clinical presentations vary widely, including anterior, intermediate, posterior, and panuveitis, with posterior uveitis being the most commonly observed form. Diagnosis is largely presumptive, based on a combination of clinical findings, immunological tests such as interferon-gamma release assays or tuberculin skin tests, chest imaging, and response to anti-tuberculosis therapy. The mainstay of treatment involves anti-tuberculosis therapy combined with corticosteroids to control intraocular inflammation. This combined approach has been shown to improve visual outcomes and reduce inflammatory activity more effectively than monotherapy. Prognosis depends on early diagnosis and timely treatment, with better outcomes achieved when managed promptly. However, complications such as cataract, glaucoma, and macular edema remain significant concerns, highlighting the importance of a multidisciplinary approach in clinical managementMorbi a commodo erat. Aenean tincidunt dapibus quam, sit amet vulputate ligula. Maecenas a suscipit velit.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Uveitis tuberkulosis merupakan salah satu manifestasi tuberkulosis ekstraparu yang memiliki spektrum klinis luas dan sering menimbulkan tantangan dalam penegakan diagnosis. Penyakit ini dapat terjadi akibat invasi langsung Mycobacterium tuberculosis ke jaringan okular maupun sebagai respons imun terhadap antigen bakteri. Manifestasi klinisnya bervariasi, meliputi uveitis anterior, intermediat, posterior, hingga panuveitis, dengan posterior uveitis sebagai bentuk yang paling sering ditemukan. Diagnosis umumnya bersifat presumtif dengan menggabungkan temuan klinis, pemeriksaan imunologis seperti IGRA atau uji tuberkulin, pencitraan toraks, serta respons terhadap terapi. Penatalaksanaan utama adalah pemberian terapi anti-tuberkulosis yang dikombinasikan dengan kortikosteroid untuk mengendalikan inflamasi intraokular. Kombinasi terapi ini terbukti memberikan perbaikan tajam penglihatan dan resolusi inflamasi yang lebih baik dibandingkan terapi tunggal. Prognosis bergantung pada kecepatan diagnosis dan inisiasi terapi, dengan luaran yang lebih baik pada penanganan dini. Namun, risiko komplikasi seperti katarak, glaukoma, dan edema makula tetap menjadi perhatian. Oleh karena itu, pendekatan multidisiplin dan kewaspadaan klinis yang tinggi sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil terapi.</p> Kenya Brilliantyas, Raja Merlinda Veronica Copyright (c) 2026 Kenya Brilliantyas, Raja Merlinda Veronica, Agustiawan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1275 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 MONITORING TERAPI CAIRAN PADA KASUS EMERGENSI: TINJAUAN KOMPREHENSIF PENDEKATAN DINAMIS TERKINI https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1342 <p><em>Fluid therapy is a cornerstone of resuscitation in emergency patients, but conventional approaches based on static parameters such as central venous pressure and isolated clinical signs have proven insensitive and frequently trigger fluid overload, which directly correlates with increased mortality and multi-organ failure. This article aims to comprehensively review the evolution of fluid therapy monitoring strategies, focusing on dynamic parameters and Point-of-Care Ultrasound (POCUS) in emergency departments and intensive care units based on current clinical evidence. A narrative review was conducted on 26 reputable scientific literatures (Scopus Q1/Q2 and international guidelines) published between 2018–2026 regarding the accuracy of dynamic parameters, functional tests, and ultrasonography in predicting fluid responsiveness. The results demonstrate that determining fluid responsiveness using dynamic parameters—such as Pulse Pressure Variation (PPV) and Stroke Volume Variation (SVV) with an accuracy &gt;13%—is far superior to static parameters. For spontaneously breathing patients, the Passive Leg Raising (PLR) test proves safe and reversible. Integration of POCUS through evaluation of Inferior Vena Cava collapsibility and Carotid Artery Flow Time provides real-time visualization of circulatory volume status at the bedside. Implementation of a phase-based resuscitation protocol (the ROSE concept) guided by dynamic parameters, along with a post-resuscitation restrictive strategy, has been shown to reduce the incidence of acute kidney injury and the duration of mechanical ventilation. In conclusion, fluid monitoring based on dynamic parameters and POCUS is strongly recommended to replace conventional linear resuscitation dogma in order to reduce morbidity and mortality in emergency patients.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak<br></strong>Terapi cairan merupakan pilar utama resusitasi pasien emergensi, namun pendekatan konvensional berbasis parameter statis seperti tekanan vena sentral dan tanda klinis terisolasi terbukti tidak sensitif dan sering memicu fluid overload yang berkorelasi langsung dengan peningkatan mortalitas serta kegagalan multi-organ. Artikel ini bertujuan menelaah secara komprehensif evolusi strategi monitoring terapi cairan dengan fokus pada parameter dinamis dan Point-of-Care Ultrasound (POCUS) di instalasi gawat darurat dan ruang intensif berdasarkan bukti klinis literatur terkini. Metode yang digunakan secara komprehensif terhadap 26 literatur ilmiah bereputasi (Scopus Q1/Q2 dan panduan internasional) kurun waktu 2018–2026 terkait akurasi parameter dinamis, uji fungsional, dan ultrasonografi dalam memprediksi responsivitas cairan. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa penentuan responsivitas cairan menggunakan parameter dinamis seperti Pulse Pressure Variation (PPV) dan Stroke Volume Variation (SVV) dengan akurasi &gt;13% jauh lebih unggul dibanding parameter statis. Bagi pasien bernapas spontan, uji Passive Leg Raising (PLR) terbukti aman dan reversibel. Integrasi POCUS melalui evaluasi kolapsibilitas Vena Cava Inferior serta parameter Carotid Artery Flow Time memberikan visualisasi status volume sirkulasi secara real-time di tempat tidur pasien. Implementasi protokol resusitasi berbasis fase (konsep ROSE) yang dipandu parameter dinamis serta strategi restriktif pasca-resusitasi terbukti menurunkan kejadian cedera ginjal akut dan durasi ventilasi mekanik. Sebagai kesimpulan, monitoring cairan berbasis parameter dinamis dan POCUS sangat direkomendasikan untuk menggantikan dogma resusitasi linier konvensional demi menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien emergensi.<strong><br></strong></p> Agus Sumedi, Zaim Anshari Copyright (c) 2026 Agus Sumedi, Zaim Anshari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1342 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 FAKTOR OKUPASIONAL YANG BERKAITAN DENGAN INFARK MIOKARD AKUT PADA DEWASA USIA KERJA: TINJAUAN NARATIF TERSTRUKTUR https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1341 <p><em>Acute myocardial infarction (AMI) remains a major cause of mortality, disability, and healthcare utilisation worldwide. In addition to conventional cardiovascular risk factors, workplace exposures and employment conditions may influence AMI occurrence and subsequent outcomes. This structured narrative review synthesised evidence on occupational factors associated with AMI among working-age populations. A focused PubMed search was conducted on 2 February 2026 for full-text English-language articles published from January 2010 to January 2026. Of 108 records identified, eight cohort studies met the eligibility criteria and formed the core evidence set. Methodological quality was assessed using the JBI Critical Appraisal Tool for Cohort Studies, and findings were synthesised by exposure domain. Outcomes included first-time AMI, coronary heart disease outcomes explicitly including AMI, and mortality or prognosis following AMI. Occupational diesel engine exhaust exposure showed the most consistent positive association with incident AMI, whereas findings for respirable crystalline silica or quartz were inconsistent. Associations involving night work, shift work, and travelling work were generally modest or limited to specific subgroups. Occupational physical activity was not consistently associated with AMI, while unstable employment was associated with higher 2-year mortality following AMI. Heterogeneity in exposure definitions, assessment methods, and outcome classification limited direct comparison and causal interpretation.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Infark miokard akut (IMA) tetap menjadi penyebab utama kematian, disabilitas, dan pemanfaatan layanan kesehatan di seluruh dunia. Selain faktor risiko kardiovaskular konvensional, pajanan dan kondisi kerja dapat memengaruhi kejadian IMA serta luaran setelahnya. Tinjauan naratif terstruktur ini bertujuan menyintesis bukti mengenai faktor okupasional yang berkaitan dengan IMA pada populasi usia kerja. Pencarian terfokus dilakukan di PubMed pada 2 Februari 2026 untuk artikel lengkap berbahasa Inggris yang diterbitkan antara Januari 2010 dan Januari 2026. Dari 108 rekaman yang ditemukan, delapan studi kohort memenuhi kriteria dan dimasukkan sebagai bukti inti. Kualitas metodologis dinilai menggunakan JBI Critical Appraisal Tool for Cohort Studies, dan temuan disintesis berdasarkan domain pajanan. Luaran mencakup kejadian pertama IMA, penyakit jantung koroner yang secara eksplisit mencakup IMA, serta mortalitas atau prognosis setelah IMA. Pajanan diesel engine exhaust menunjukkan hubungan positif paling konsisten dengan kejadian IMA, sedangkan temuan mengenai respirable crystalline silica atau quartz tidak konsisten. Hubungan kerja malam, kerja bergilir, dan travelling work umumnya moderat atau terbatas pada kelompok tertentu. Aktivitas fisik okupasional tidak menunjukkan hubungan yang konsisten, sedangkan ketidakstabilan pekerjaan berkaitan dengan mortalitas dua tahun yang lebih tinggi setelah IMA. Heterogenitas pajanan, metode penilaian, dan definisi luaran membatasi perbandingan langsung dan kesimpulan kausal.</p> Airin Farah Tsabita Batubara, Saiful Batubara, Muhammad Diah, Bless Dova Fransza Andrew Sihujur Hutabarat, Ramadhan Bestari Copyright (c) 2026 Airin Farah Tsabita Batubara, Saiful Batubara, Muhammad Diah, Bless Dova Fransza Andrew Sihujur Hutabarat, Ramadhan Bestari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1341 Sat, 18 Jul 2026 00:00:00 +0700 PENATALAKSANAAN PASIEN DENGAN STEMI DI RUMAH SAKIT DAERAH: LAPORAN KASUS https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1113 <p><em>Coronary Arterial disease or Coronary heart disease (CHD) is a disease caused by partial or complete plaque buildup in the coronary artery lining, which causes blood flow blockage, thereby reducing oxygen supply to the heart muscle. Patient summary: A 74-year-old male patient came to Muda Sedia Regional General Hospital complaining of severe pain in the center of his chest for 8 hours prior to admission. The pain appeared suddenly when the patient woke up and was about to go to the bathroom. The pain was felt in the center of the chest, as if being pressed by a heavy object, radiating to the back and left arm for approximately 30 minutes. The pain did not subside or disappear with rest. The location of the pain could not be pinpointed with a single finger and was not affected by the patient's position. The patient did not complain of shortness of breath, nausea, or weakness. There was no coughing, vomiting, or fever. Physical examination of the heart and lungs was within normal limits. The ECG showed ST elevation in leads II, III, aVF, V4-V5, and laboratory results showed an increase in LDL cholesterol and a decrease in HDL. Cardiac enzyme tests showed an increase in troponin. Based on clinical findings, vital signs, physical examination, and laboratory results, the patient was diagnosed with inferolateral STEMI onset 8 hours prior. Given the patient's condition, the patient was immediately referred for urgent primary PCI.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak<br></strong>Penyakit arteri Penyakit Jantung Koroner (PJK) atau <em>Coronary Heart Desease </em>(CHD) adalah penyakit akibat penumpukan plak sebagian atau seluruhnya di dalam lapisan arteri koroner, yang menyebabkan penyumbatan aliran darah sehingga suplai oksigen ke otot jantung berkurang. Penyempitan dan penyumbatan lapisan arteri koroner tersebut dikenal dengan istilah <em>aterosklerosis </em>yang menyebabkan sirkulasi oksigen ke jantung dan keluar jantung tidak adekuat<em>.</em> Keadaan tersebut dapat menimbulkan gejala nyeri dada, rasa berat dan tertekan di dada, nyeri ulu hati, mual muntah, keringat dingin, rasa terbakar sekitar dada, dan mudah lelah sehingga sulit melakukan aktivitas sehari – hari. Resume pasien, Pasien laki-laki usia 74 tahun &nbsp;datang ke RSUD Muda Sedia&nbsp; dengan keluhan 8 jam SMRS pasien merasakan nyeri hebat pada bagian tengah dada. Nyeri muncul secara tiba-tiba saat pasien bangun tidur dan hendak ke kamar mandi. Nyeri dirasakan di bagian tengah dada seperti dihimpit benda berat, menjalar ke punggung dan lengan kiri dengan durasi lebih kurang 30 menit. Nyeri tidak berkurang dan tidak hilang dengan beristirahat. Lokasi nyeri tidak dapat ditunjuk dengan satu jari dan tidak dipengaruhi posisi. Selain itu os juga mengeluhkan nyeri ulu hati disertai rasa tidak nyaman di perut. Pasien tidak mengeluhkan sesak nafas, mual, lemah. Tidak ada batuk, muntah, demam tidak ada.</p> Siti Tari Salsa, Taufiqurrahman, Khairani Putri Copyright (c) 2026 salsa siti tari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1113 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 SPEKTRUM PLASENTA AKRETA DENGAN KOMPLIKASI APENDISITIS AKUT PADA KEHAMILAN ATERM DENGAN TIGA RIWAYAT SEKSIO SESAREA SEBELUMNYA: LAPORAN KASUS https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1266 <p>Placenta Accreta Spectrum (PAS) is characterized by abnormal placental adherence or invasion into the myometrium and is associated with significant maternal morbidity. It is one of the leading causes of life threatening postpartum hemorrhage, particularly among women with a history of repeated cesarean deliveries. A 32-year-old woman (G4P3A0) with a history of three previous cesarean deliveries was referred with suspected PAS based on ultrasonographic findings of abnormal placental implantation. The patient presented with severe lower abdominal pain accompanied by nausea and vomiting. Physical examination revealed stable hemodynamic status with a temperature of 38°C. Laboratory investigations demonstrated moderate anemia and leukocytosis with neutrophilia, suggestive of an inflammatory process. The patient underwent cesarean section with simultaneous appendectomy. Intraoperative findings demonstrated abnormal placental adherence suggestive of PAS and inflammatory changes of the appendix suggestive of acute appendicitis. Estimated blood loss was approximately 1200 mL, requiring transfusion of 3 units of packed red blood cells. A healthy male infant weighing 3100 g was delivered with Apgar scores of 8 and 10 at 1 and 5 minutes, respectively. The postoperative course was uneventful, and the patient was discharged in good condition on postoperative day five. PAS is strongly associated with repeated cesarean deliveries due to abnormal trophoblastic attachment and invasion at scarred uterine sites. Concurrent acute appendicitis during pregnancy is uncommon and may complicate diagnosis because of altered anatomical presentation. Early recognition of PAS risk factors and concurrent intra-abdominal pathologies, together with adequate perioperative preparation and multidisciplinary management, are essential to improve maternal and neonatal outcomes.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br><em>Placenta Accreta Spectrum</em> (PAS) ditandai dengan perlekatan atau invasi abnormal plasenta ke dalam miometrium dan berhubungan dengan morbiditas maternal yang signifikan. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab utama perdarahan postpartum yang mengancam jiwa, terutama pada wanita dengan riwayat operasi sesar berulang. Seorang wanita berusia 32 tahun (G4P3A0) dengan riwayat tiga kali persalinan melalui operasi sesar dirujuk dengan dugaan PAS berdasarkan temuan ultrasonografi berupa implantasi plasenta abnormal. Pasien datang dengan keluhan nyeri hebat di perut bagian bawah disertai mual dan muntah. Pemeriksaan fisik menunjukkan kondisi hemodinamik stabil dengan suhu tubuh 38°C. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia sedang dan leukositosis disertai neutrofilia yang mengarah pada proses inflamasi. Pasien menjalani operasi sesar disertai appendektomi simultan. Temuan intraoperatif menunjukkan perlekatan plasenta abnormal yang mengarah pada PAS serta perubahan inflamasi pada apendiks yang mengarah pada appendisitis akut. Estimasi perdarahan intraoperatif sekitar 1200 mL sehingga diperlukan transfusi 3 unit <em>packed red blood cells</em> (PRC). Seorang bayi laki-laki sehat dengan berat lahir 3100 gram dilahirkan dengan skor Apgar 8 dan 10 pada menit pertama dan kelima. Perjalanan pascaoperasi berlangsung tanpa komplikasi, dan pasien dipulangkan dalam kondisi baik pada hari kelima pascaoperasi. PAS berhubungan erat dengan riwayat operasi sesar berulang akibat perlekatan dan invasi trofoblas abnormal pada area jaringan parut uterus. Keberadaan appendisitis akut yang terjadi bersamaan selama kehamilan merupakan kondisi yang jarang dan dapat mempersulit diagnosis akibat perubahan anatomi selama kehamilan. Identifikasi dini faktor risiko PAS dan patologi intraabdomen yang menyertai, disertai persiapan perioperatif yang adekuat serta tata laksana multidisiplin, sangat penting untuk meningkatkan luaran maternal dan neonatal.</p> Andhika Budi Sentoso, Ronny Ajartha Tarigan, Nazua Maulida Rahma Copyright (c) 2026 Andhika Budi Sentoso, Ronny Ajartha Tarigan, Nazua Maulida Rahma https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1266 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 MASSA OVARIUM REKUREN DENGAN KADAR CA-125 SANGAT TINGGI YANG MENYERUPAI KEGANASAN: LAPORAN KASUS https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1263 <p><em>Ovarian endometrioma is a form of endometriosis that often presents a diagnostic challenge due to its ability to mimic ovarian malignancy both clinically and biochemically. Markedly elevated CA-125 levels may further raise suspicion of malignancy, potentially leading to overdiagnosis and overtreatment. We report the case of a 39-year-old woman with a recurrent ovarian mass presenting with progressive dysmenorrhea, abdominal enlargement, and menstrual irregularities. Examination revealed a large abdominal mass with a significantly elevated CA-125 level of 1,500 U/mL. Ultrasonography demonstrated a cystic lesion with a characteristic “ground glass appearance” without solid components, suggestive of endometrioma. However, intraoperative findings of extensive adhesions raised strong suspicion of malignancy. Frozen section analysis suggested a benign lesion consistent with endometrioma, which was subsequently confirmed by final histopathological examination. The patient subsequently underwent total hysterectomy and unilateral salpingo-oophorectomy, followed by postoperative GnRH agonist therapy. This case highlights that ovarian endometrioma can closely mimic ovarian malignancy, particularly in the presence of markedly elevated CA-125 levels. Histopathological examination remains the gold standard for definitive diagnosis. A comprehensive and individualized approach is essential to avoid unnecessary aggressive management and to optimize patient outcomes.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Endometrioma ovarium merupakan salah satu bentuk endometriosis yang sering menimbulkan tantangan diagnostik karena dapat menyerupai keganasan ovarium, baik secara klinis maupun biokimiawi. Peningkatan kadar CA-125 yang sangat tinggi sering kali memperkuat kecurigaan terhadap keganasan sehingga berpotensi menyebabkan overdiagnosis dan overtreatment. Dilaporkan kasus seorang wanita berusia 39 tahun dengan massa ovarium rekuren yang disertai keluhan dismenore progresif, pembesaran abdomen, dan gangguan menstruasi. Pemeriksaan menunjukkan massa abdomen berukuran besar dengan kadar CA-125 mencapai 1.500 U/mL. Ultrasonografi memperlihatkan lesi kistik dengan gambaran khas <em>ground glass appearance</em> tanpa komponen solid yang mengarah pada diagnosis endometrioma. Namun, temuan intraoperatif berupa adhesi luas menimbulkan kecurigaan kuat terhadap keganasan ovarium. Pemeriksaan <em>frozen section</em> menunjukkan lesi jinak yang konsisten dengan endometrioma dan selanjutnya dikonfirmasi melalui pemeriksaan histopatologi definitif tanpa ditemukan tanda keganasan. Pasien menjalani histerektomi total dan salpingo-ooforektomi unilateral, diikuti terapi agonis GnRH pascaoperasi. Kasus ini menunjukkan bahwa endometrioma ovarium dapat menyerupai keganasan ovarium, terutama pada kondisi dengan kadar CA-125 yang sangat tinggi. Pemeriksaan histopatologi tetap merupakan standar emas dalam menegakkan diagnosis definitif. Pendekatan diagnostik yang komprehensif dan individual diperlukan untuk menghindari tindakan yang tidak perlu serta mengoptimalkan luaran pasien.</p> Andhika Budi Sentoso, Ronny Ajartha Tarigan, Clarissa Anastasya, Zacky Aufnouval Firja Barus Copyright (c) 2026 Andhika Budi Sentoso, Ronny Ajartha Tarigan, Clarissa Anastasya, Zacky Aufnouval Firja Barus https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1263 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 BERADA DI UJUNG TANDUK: MANAJEMEN ANESTESI PADA LANSIA DENGAN PERITONITIS YANG MENGALAMI GAGAL JANTUNG STADIUM AKHIR https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1271 <p><em>Anesthetic management in geriatric patients with peritonitis complicated by advanced cardiac failure represents a complex clinical challenge associated with high mortality risk. This condition is characterized by the interplay between sepsis-induced systemic inflammation and limited cardiac reserve, resulting in a fragile hemodynamic state. This study aims to explore a physiology-guided anesthetic approach to optimize perioperative hemodynamic stability. The method employed is a narrative review of recent international literature focusing on fluid management strategies, anesthetic agent selection, and vasoactive therapy in patients with severe ventricular dysfunction. The findings suggest that individualized management, supported by dynamic hemodynamic monitoring, cautious fluid resuscitation, and the use of agents that minimize myocardial depression, is essential to maintain adequate organ perfusion without exacerbating cardiac dysfunction. The discussion highlights the need to balance septic perfusion demands with the risk of fluid overload in compromised cardiac conditions. In conclusion, anesthetic management in this population should be multidisciplinary, adaptive, and guided by physiological targets to improve clinical outcomes. This approach may serve as a key strategy to reduce perioperative morbidity and mortality in high-risk geriatric patients.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Manajemen anestesi pada pasien geriatri dengan peritonitis yang disertai gagal jantung lanjut merupakan tantangan klinis kompleks dengan risiko mortalitas tinggi. Kondisi ini ditandai oleh kombinasi inflamasi sistemik akibat sepsis dan keterbatasan cadangan jantung, yang menciptakan ketidakseimbangan hemodinamik yang sangat rapuh. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi pendekatan anestesi berbasis fisiologi dalam mengoptimalkan stabilitas hemodinamik selama periode perioperatif. Metode yang digunakan berupa tinjauan naratif berbasis literatur internasional terkini yang menyoroti strategi manajemen cairan, penggunaan agen anestesi, serta terapi vasoaktif pada pasien dengan disfungsi ventrikel berat. Hasil menunjukkan bahwa pendekatan individualisasi dengan pemantauan hemodinamik dinamis, resusitasi cairan yang hati-hati, serta pemilihan obat yang meminimalkan depresi miokard merupakan kunci dalam menjaga perfusi organ tanpa memperburuk gagal jantung. Diskusi menekankan pentingnya keseimbangan antara kebutuhan perfusi akibat sepsis dan risiko overload cairan pada jantung yang sudah terganggu. Kesimpulannya, manajemen anestesi pada populasi ini harus bersifat multidisiplin, adaptif, dan berbasis target fisiologis untuk meningkatkan luaran klinis. Pendekatan ini berpotensi menjadi strategi utama dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas perioperatif pada pasien berisiko tinggi.</p> Bima Diokta Alparisi, Aisyah, Kurniaji, Ricko Yorinda Putra, Haryadi Copyright (c) 2026 Bima Diokta Alparisi, Aisyah, Kurniaji, Ricko Yorinda Putra, Haryadi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1271 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700 STROKE ISKEMIK AKUT PASCA PPCI (PRIMARY PERCUTANEOUS CORONARY INTERVENTION) : SEBUAH LAPORAN KASUS MENGENAI STEMI ANTEROEKSTENSIF https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1292 <p><em>Acute ischemic stroke is a serious but rare complication following primary percutaneous coronary intervention (PPCI) in patients with ST Elevation Myocardial Infarction (STEMI). The risk increases in the presence of heavy coronary thrombus and left ventricular dysfunction. A 54-year-old man presented with left chest pain radiating to the neck, accompanied by palpitations and diaphoresis. Electrocardiography showed ST segment elevation in leads V1–V6 consistent with extensive anterior STEMI. Coronary angiography revealed subtotal occlusion and thrombus in the proximal left anterior descending artery (LAD), severe stenosis of the left circumflex artery (LCX), and chronic total occlusion (CTO) of the right coronary artery (RCA). The patient received antiplatelet therapy, statins, insulin, and underwent PPCI on the LAD. Four hours post-PPCI, the patient experienced decreased consciousness and left-sided hemiparesis. Head CT scan showed a large right temporoparietal infarct. Echocardiography showed an ejection fraction of 36% with spontaneous echo contrast (SEC) supporting cardioembolic embolism. After two weeks of intensive care, hemodynamic condition improved with residual left hemiparesis and global aphasia. In conclusion, acute ischemic stroke post-PPCI in STEMI is associated with high thrombus burden, left ventricular dysfunction, and risk of systemic embolism, thus requiring close neurological monitoring post reperfusion.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Stroke iskemik akut merupakan komplikasi serius namun jarang terjadi setelah primary percutaneous coronary intervention (PPCI) pada pasien ST Elevation Myocardial Infarction (STEMI). Risiko meningkat pada kondisi trombus koroner berat dan disfungsi ventrikel kiri. Dijumpai Seorang laki-laki 54 tahun datang dengan nyeri dada kiri menjalar ke leher disertai palpitasi dan diaforesis. Elektrokardiografi menunjukkan elevasi segmen ST pada sadapan V1–V6 yang sesuai dengan STEMI anteroekstensif. Angiografi koroner menunjukkan subtotal oklusi dan trombus pada left anterior descending artery (LAD) proksimal, stenosis berat left circumflex artery (LCX), serta chronic total occlusion (CTO) right coronary artery (RCA). Pasien mendapat terapi antiplatelet, statin, insulin, dan dilakukan PPCI pada LAD. Empat jam pasca-PPCI, pasien mengalami penurunan kesadaran dan hemiparesis sinistra. CT-scan kepala menunjukkan infark luas temporoparietalis kanan. Ekokardiografi menunjukkan ejeksi fraksi 36% dengan spontaneous echo contrast (SEC) yang mendukung emboli kardioembolik. Setelah dua minggu perawatan intensif, kondisi hemodinamik membaik dengan sisa hemiparesis sinistra dan afasia global. Kesimpulannya Stroke iskemik akut pasca-PPCI pada STEMI berkaitan dengan tingginya beban trombus, disfungsi ventrikel kiri, dan risiko emboli sistemik sehingga diperlukan pemantauan neurologis ketat pasca reperfusi.</p> Nisa El Hasanah, Hafiz Ahmad Ikhsanul Yannas, Putri Theresia L.A Bancin, Fikra Clara Anjelita, Gita Annisa Raditra Copyright (c) 2026 Nisa El Hasanah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/stm/article/view/1292 Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 +0700