Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina
<p align="justify">Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan-Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, is published by the Faculty of Medicine, Universitas Islam Sumatera Utara. It covers scientific disciplines in medicine, public health, and behavioral sciences. The journal is published twice a year, in <strong>January</strong> and <strong>July</strong>. Submitted manuscripts are initially reviewed by the editor and checked for plagiarism using a Plagiarism Checker application. The review process is conducted through a double-blind peer review system.</p>Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utaraen-USIbnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara1411-9986DETEKSI DINI GANGGUAN MINERAL TULANG PADA PENYAKIT GINJAL KRONIK: TINJAUAN SISTEMATIK
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1052
<p>Gangguan metabolisme mineral dan tulang merupakan komplikasi penting pada pasien penyakit ginjal kronik yang berdampak pada meningkatnya morbiditas, mortalitas, dan risiko fraktur tulang. Tinjauan sistematik ini bertujuan untuk menganalisis bukti terkini mengenai peran biomarker biokimia dan pemeriksaan radiologis dalam deteksi dini CKD-MBD pada pasien CKD stadium 2–5. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, Scopus, dan ScienceDirect untuk periode 2015–2025. Empat studi yang memenuhi kriteria inklusi berasal dari India, Italia, Tiongkok, dan Bangladesh, dengan desain potong lintang dan kohort prospektif. Bukti yang kami himpun menunjukkan bahwa peningkatan kadar <em>parathyroid hormone</em> (PTH), fosfat, <em>alkaline phosphatase</em> (ALP), dan <em>fibroblast growth factor-23</em> (FGF-23) secara konsisten berhubungan dengan penurunan <em>bone mineral density</em> (BMD) serta progresivitas CKD. Kombinasi pemeriksaan biokimia dengan densitometri tulang (DXA) dan pendekatan berbasis machine learning terbukti meningkatkan akurasi diagnosis dini. Oleh karena itu, pemantauan biomarker tersebut dapat menjadi strategi penting dalam deteksi dan pencegahan CKD-MBD secara komprehensif.</p>AgustiawanSugianto MukminEkawaty Suryani MastariAmanda Trixie HardigaloehDenny Susanto
Copyright (c) 2026 Agustiawan, Sugianto Mukmin, Ekawaty Suryani Mastari, Amanda Trixie Hardigaloeh, Denny Susanto
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-0125118219010.30743/ibnusina.v25i1.1052WAKTU PENGANGKATAN SELANG DADA DINI (≤24 JAM) SETELAH OPERASI CORONARY ARTERY BYPASS GRAFT: TINJAUAN SISTEMATIS
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1045
<p>Selang dada dipasang rutin setelah operasi <em>coronary artery bypass graft</em> (CABG) untuk mencegah tamponade dan efusi pleura. Namun, waktu pengangkatan optimal masih kontroversial karena pengangkatan dini berpotensi mempercepat pemulihan tetapi dikhawatirkan meningkatkan komplikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai keamanan, efektivitas, dan luaran klinis pengangkatan selang dada dini (≤24 jam) dibandingkan pengangkatan standar/tertunda setelah CABG. Tinjauan sistematis mengikuti pedoman PRISMA. Pencarian dilakukan pada PubMed, Scopus, dan Cochrane Library untuk publikasi tahun 2000–2023, mencakup uji acak terkontrol (RCT), studi kohort, dan studi observasional pada pasien dewasa pasca-CABG. Risiko bias dinilai menggunakan RoB 2 (RCT) dan ROBINS-I (studi non-acak). Karena terdapat heterogenitas klinis dan metodologis (misalnya perbedaan ambang volume drainase, lokasi selang, serta definisi luaran), data disintesis secara naratif. Empat belas studi memenuhi kriteria inklusi. Secara umum, pengangkatan selang dada dalam 24 jam dikaitkan dengan nyeri pascaoperasi yang lebih rendah dan lama rawat inap yang lebih singkat, tanpa peningkatan bermakna pada komplikasi mayor (misalnya tamponade atau efusi yang memerlukan intervensi ulang). Faktor yang memengaruhi kelayakan pengangkatan dini meliputi lokasi selang, karakteristik/volume drainase, serta strategi manajemen perikardium. Pengangkatan selang dada dini (≤24 jam) setelah CABG tampak aman dan bermanfaat pada pasien terpilih bila diterapkan dengan protokol klinis terstandar dan pemantauan yang adekuat; keputusan tetap harus mempertimbangkan penilaian klinis individual.</p>OrlensiaDavidNata Nakamura
Copyright (c) 2026 Orlensia, David, Nata Nakamura
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-072026-01-0725121022010.30743/ibnusina.v25i1.1045HUBUNGAN KETAJAMAN PENGLIHATAN DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI SD NEGERI UNGGULAN PACCINONGAN
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/887
<p>Mata merupakan salah satu pancaindra yang berperan penting dalam proses pembelajaran. Gangguan ketajaman penglihatan dapat memengaruhi prestasi akademik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ketajaman penglihatan dengan prestasi belajar pada siswa Sekolah Dasar. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em> melibatkan 188 siswa kelas 4 hingga 6 di SD Negeri Unggulan Paccinongan, Kabupaten Gowa. Ketajaman penglihatan diukur menggunakan <em>snellen chart</em>, sedangkan prestasi belajar dilihat dari rata-rata nilai rapor semester. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa dengan ketajaman penglihatan normal memiliki nilai diatas kriteria ketuntasan minimal (KKM), sementara siswa dengan visus menurun cenderung memiliki nilai dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Uji <em>Chi-Square</em> menunjukkan hubungan yang signifikan antara ketajaman penglihatan dan prestasi belajar (p=0,001), dengan rasio prevalensi sebesar 27,6. Dapat disimpulkan bahwa penurunan ketajaman penglihatan berhubungan dengan rendahnya prestasi belajar siswa. Pemeriksaan mata rutin di sekolah dasar penting dilakukan untuk mendeteksi dan mencegah dampak negatif terhadap proses belajar anak.</p>Nurfitriyani A W HasanUlfah RimayantiAndi Sitti RahmaAbd. RahmanDarussalam Syamsuddin
Copyright (c) 2026 Nurfitriyani A W Hasan, Ulfah Rimayanti, Andi Sitti Rahma, Abd. Rahman, Darussalam Syamsuddin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-012511810.30743/ibnusina.v25i1.887IDENTIFIKASI PERILAKU HYGIENE PRIORITAS PADA KEJADIAN DIARE PADA SISWA SMP AL AZHAR 3 BINTARO
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/955
<p>Diare merupakan penyakit infeksi saluran pencernaan yang masih menjadi tantangan kesehatan utama di negara berkembang seperti Indonesia. Gejalanya meliputi frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan tinja cair, kadang disertai lendir atau darah. Tanpa penanganan yang tepat, diare dapat menyebabkan dehidrasi berat bahkan kematian, khususnya pada anak usia sekolah. Meskipun banyak faktor penyebab diare telah diteliti, kebersihan kuku dan penggunaan alat makan yang bersih kurang mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara perilaku higiene dan sanitasi dasar dengan kejadian diare pada siswa SMP Al-Azhar 3 Bintaro, dengan fokus pada kebersihan kuku dan alat makan. Metode penelitian menggunakan desain <em>cross-sectional</em> dengan sampel purposif sebanyak 98 siswa. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, lalu dianalisis menggunakan uji <em>Chi-Square</em>. Hasil menunjukkan hubungan signifikan antara kejadian diare dengan perilaku BAB (p=0,014), perilaku jajan (p=0,032), perilaku cuci tangan (p=0,027), perilaku menjaga kebersihan kuku (p=0,034), penggunaan alat makan (p=0,019), serta sanitasi dasar (p=0,017). Analisis multivariat menunjukkan variabel sanitasi dasar (p=0,0075; OR=2,67) dan cuci tangan (p=0,0358; OR=2,10) merupakan variabel paling dominan yang berhubungan dengan kejadian diare. Temuan ini menegaskan pentingnya sanitasi dasar dan perilaku cuci tangan dalam pencegahan diare di lingkungan sekolah.</p>Adellia Sheny HerlianiErick Sidarta
Copyright (c) 2026 Adellia Sheny Herliani, Erick Sidarta
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-0125191810.30743/ibnusina.v25i1.955META-ANALYSIS OF RANDOMIZED CONTROLLED TRIALS ON FINERENONE FOR CARDIOVASCULAR OUTCOMES IN TYPE 2 DIABETES AND CHRONIC KIDNEY DISEASE
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/984
<p>Patients with chronic kidney disease and type 2 diabetes mellitus are at high risk for cardiovascular events. Finerenone, a non-steroidal mineralocorticoid receptor antagonist, shows potential as an additional therapy with cardioprotective effects. We conducted a meta-analysis based on data from randomized controlled trials by systematically searching the PubMed and ScienceDirect databases, using the PICOS framework: chronic kidney disease and type 2 diabetes mellitus (P); finerenone (I); placebo (C); cardiovascular outcomes (O); and randomized controlled trials (S). We included articles published within the last 10 years and available in full-text format. A total of 4 RCTs were included in this analysis. Statistical analysis was performed using the Random Effect Model. The analysis showed that finerenone reduced the odds of non-fatal myocardial infarction by 9% compared to placebo (OR 0.91; 95% CI: 0.80–1.03) and reduced the risk of hospitalization due to heart failure by 17% (OR 0.73; 95% CI: 0.66–0.82). All statistical results were significant, except for non-fatal myocardial infarction. The heterogeneity level was assessed as low to moderate (I² = 10%, 0%, and 58%). Risk of bias assessment using the RoB-2 tool indicated that all included studies had a low risk of bias. Finerenone demonstrated better outcomes compared to placebo, suggesting its potential benefit in improving cardiovascular outcomes in this population.</p>Khairuman Fitrah AnandaAbigail Christine SarumpaetAgustina Sianturi
Copyright (c) 2026 Khairuman Fitrah Ananda, Abigail Christine Sarumpaet, Agustina Sianturi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-01251192910.30743/ibnusina.v25i1.984HUBUNGAN POSISI DUDUK DAN DURASI DUDUK SAAT BELAJAR DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/762
<p>Nyeri punggung bawah adalah nyeri yang bersumber dari tulang belakang bagian bawah yaitu pada daerah spinal, otot, saraf dan struktur lainnya di sekitar daerah tersebut. Mahasiswa kedokteran seringkali duduk dalam durasi yang lama dan posisi menetap sehingga menyebabkan otot bekerja terus-menerus dan otot mengalami ketegangan atau pemendekan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan posisi duduk dan durasi duduk saat belajar dengan keluhan nyeri punggung bawah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan <em>cross sectional.</em> Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji <em>Chi-Square</em> serta multivariat menggunakan uji regresi logistik. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik <em>consecutive sampling</em> terhadap 191 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya. Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan antara posisi duduk dengan keluhan nyeri punggung bawah dengan p value 0,015 dan ditemukan hubungan antara durasi duduk dengan keluhan nyeri punggung bawah dengan <em>p value</em> 0,001 serta dilakukan secara simultan analisis hubungan posisi dan durasi duduk terhadap keluhan nyeri punggung bawah memiliki hubungan yang signifikan <em>p value</em> 0,001.</p>KasandraPaulus Aji SatriyoShinta Nugrahini
Copyright (c) 2026 Kasandra, Paulus Aji Satriyo, Shinta Nugrahini
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-01251304010.30743/ibnusina.v25i1.762EFFECTIVENESS OF LOW VERSUS HIGH DOSE STATINS FOR REDUCING MAJOR CARDIOVASCULAR EVENTS: A SYSTEMATIC REVIEW AND META-ANALYSIS
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/981
<p>Coronary heart disease (CHD) remains a leading cause of global mortality. Statins are first-line therapy for reducing major adverse cardiovascular events (MACE); however, the optimal dosing strategy remains debated, particularly between ACC/AHA guidelines recommending high-dose statins and ESC guidelines favoring a stepwise approach. Asian populations with SLCO1B1 gene polymorphisms are at increased risk for statin-related adverse effects, such as myopathy and hepatotoxicity. This study aimed to assess the efficacy and safety of high-dose versus low-dose statins in reducing MACE among patients with coronary artery disease (CAD). Methods: A systematic review and meta-analysis were conducted following PRISMA 2020 guidelines. Literature searches were performed in PubMed, Embase, Cochrane Library, and Scopus (2020–2025). Ten studies (n = 43,985) were included in the final analysis. Random-effects meta-analysis was performed using Review Manager 5.4. Funnel plot asymmetry suggested potential publication bias. High-dose statins significantly reduced MACE risk (RR 0.85; p = 0.004) and LDL-C levels, but increased myopathy (OR 2.3) and hepatotoxicity risks, especially in SLCO1B1 polymorphism carriers. Low-dose statins plus ezetimibe achieved comparable LDL-C reduction with fewer adverse events. High-dose statin therapy significantly increased the relative risk of myopathy (OR 2.3; 95% CI 1.8–2.9), particularly in genetically susceptible individuals. Conclusion: High-dose statins improve cardiovascular outcomes but require close monitoring. Low-dose statins with ezetimibe offer a safer alternative, supporting personalized therapy based on genetic and clinical factors.</p>Khairuman Fitrah AnandaAbigail Christine SarumpaetAgustina Sianturi
Copyright (c) 2026 Khairuman Fitrah Ananda, Abigail Christine Sarumpaet, Agustina Sianturi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-01251415310.30743/ibnusina.v25i1.981GAMBARAN SINDROM PRAMENSTRUASI SISWI SMAI SINAR CENDEKIA TANGERANG SELATAN
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/965
<p><em>Premenstrual syndrome</em> (PMS) merupakan kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosional yang dirasakan sebelum menstruasi dan mereda saat menstruasi dimulai. Penelitian ini bertujuan menggambarkan PMS pada siswi SMAI Sinar Cendekia Tangerang Selatan tahun 2024 dengan menggunakan metode deskriptif dan desain potong lintang, serta teknik <em>consecutive non random sampling</em> kepada 115 orang. Pengumpulan data melalui kuesioner sPAF (<em>Shortened premenstrual assessment form) </em>disebarkan melalui <em>google form</em>. Pada penelitian ini ditemukan 42 responden (36.5%) mengalami PMS derajat sedang, diikuti derajat berat (33.9%), dan ringan (29.6%). Gejala fisik paling umum adalah nyeri perut (37.4%), sedangkan gejala emosional tersering adalah mudah marah dan merasa tertekan (29.6%). Pada keluhan retensi cairan, peningkatan berat badan sering dialami (19.1%). Sementara itu, persentase tertinggi pada gejala berat dan ekstrem pada PMS adalah perasaan sedih (26.1%). Sebagian besar responden dengan PMS berusia 16 tahun, memiliki status gizi normal, usia menarche antara 11-15 tahun, lama menstruasi 3-8 hari, dan siklus menstruasi pada rentang 21-35 hari. Mayoritas memiliki riwayat keluarga PMS dan mengalami nyeri haid, tetapi hal ini tidak mempengaruhi kehadiran di sekolah. Temuan ini mengindikasikan remaja di usia sekolah banyak mengalami PMS. Diharapkan adanya peran aktif orang tua, guru, tenaga medis, dan masyarakat dalam edukasi serta penanganan PMS pada kalangan remaja.</p>Nabilla AzzahraAndriana Kumala Dewi
Copyright (c) 2026 Nabilla Azzahra, Andriana Kumala Dewi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-01251546210.30743/ibnusina.v25i1.965ANALISIS KORELASI OBESITAS DENGAN HIPERTRIGLISERIDEMIA PADA PEKERJA PERTAMBANGAN BUMN
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/960
<p>Obesitas merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat dan berkontribusi terhadap berbagai gangguan metabolik, termasuk hipertrigliseridemia. Kondisi hipertrigliseridemia dapat memicu berbagai komplikasi seperti pankreatitis, penyakit kardiovaskular, xantoma, serta meningkatkan risiko perkembangan sindrom metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara obesitas dan hipertrigliseridemia dengan mempertimbangkan faktor demografi dan perilaku gaya hidup, serta mengetahui prevalensi obesitas dan hipertrigliseridemia pada pekerja pertambangan BUMN. Studi ini menggunakan desain penelitian <em>cross-sectional</em> dengan pendekatan analitik observasional. Sampel penelitian diambil dari rekam medis pekerja usia 25-50 tahun tanpa kriteria eksklusi, menggunakan metode <em>consecutive non-random sampling.</em> Analisis dilakukan dengan uji chi-square pada aplikasi SPSS. Hasil menunjukkan bahwa 63,7% sampel mengalami obesitas, 51,6% mengalami hipertrigliseridemia. Dalam penelitian ini, 96% dari total sampel merupakan laki-laki, dengan usia rata-rata 42,6 tahun. Hasil analisis statistik menunjukkan hubungan yang bermakna antara obesitas dengan kejadian hipertrigliseridemia (p <0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan secara statistik dalam penelitian ini antara obesitas dengan kejadian hipertrigliseridemia.</p>Aalia ShafanissaDewi Indah Lestari
Copyright (c) 2026 Aalia Shafanissa, Dewi Indah Lestari
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-01251637010.30743/ibnusina.v25i1.960KARAKTERISTIK KADAR HIDRASI DAN SEBUM KULIT WAJAH SERTA PERAWATAN PADA PELAJAR XI SMA 36 JAKARTA TIMUR
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/962
<p>Kulit wajah merupakan area kulit yang paling sensitif dan rentan mengalami berbagai perubahan fisiologis akibat faktor eksternal dan internal. Keseimbangan kadar hidrasi dan produksi sebum kulit wajah penting dalam mempertahankan fungsi sawar kulit, sehingga pemakaian produk perawatan kulit wajah yang sesuai diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mengenai perawatan kulit wajah serta kadar hidrasi dan sebum kulit wajah pada pelajar kelas XI SMAN 36 Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif potong lintang dengan kuisioner dan pengukuran kadar hidrasi kulit dan sebum menggunakan alat <em>skin detector </em>pada empat area wajah yaitu dahi, dagu, pipi kanan dan pipi kiri. Hasil didapatkan sebanyak (50,4%) subjek penelitian memiliki kulit sangat kering, serta kulit berminyak yakni (22,1%). Perawatan terbanyak menggunakan sabun cuci wajah berbentuk jel (35,9%). Mayoritas siswa memiliki hidrasi kulit yang rendah, terutama laki-laki dengan kulit sangat kering di area dahi dan pipi, pada siswi perempuan cenderung memiliki kadar sebum lebih banyak pada dagu dan pipi kiri. Kondisi ini kemungkinan dipengaruhi hormon masa pubertas, serta kebiasaan pemakaian produk perawatan kulit wajah yang belum sesuai.</p>Aufa Aidina HidayatLinda Julianti Wijayadi
Copyright (c) 2026 Aufa Aidina Hidayat, Linda Julianti Wijayadi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-01251717810.30743/ibnusina.v25i1.962PENGARUH PEMBERIAN TABLET FE DAN SARI KACANG HIJAU TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN PADA SISWI DI SMK TARUNA TEKNO NUSANTARA MEDAN TAHUN 2024
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/974
<p>Kadar hemoglobin di bawah normal dikenal dengan istilah anemia, hal ini telah menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh remaja di seluruh dunia. Pengobatan non farmakologi dengan mengkonsumsi kacang hijau dapat berperan dalam pembentukan sel darah merah dan mencegah anemia karena kandungan fitokimia dalam kacang hijau sangat lengkap sehingga dapat membantu proses hematopoiesis. Penggunaan tablet Fe merupakan anjuran dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup terutama remaja putri agar terhindar dari anemia. Perbandingan pemberian tablet Fe dengan pemberian sari kacang hijau belum ditemukan hasil penelitian sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tablet Fe dan sari kacang hijau terhadap kadar hemoglobin pada siswi di SMK Taruna Tekno Nusantara Medan tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode <em>quasi eexperiment</em> dengan desain penelitian <em>two group pretest-posttest</em>, juga merupakan design kelompok eksperimen dilakukan <em>pre-test</em> dan diikuti intervensi, setelah beberapa waktu dilakukan <em>post-test</em> pada kelompok tersebut. Besar sampel 44 responden, dibagi ke dalam 2 kelompok yaitu 22 sampel kelompok kontrol dan 22 sampel kelompok eksperimen menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat pengaruh pemberian tablet Fe dan sari kacang hijau terhadap kadar hemoglobin pada responden di SMK Taruna Tekno Nusantara Medan tahun 2024. Kesimpulan: Terdapat pengaruh pemberian tablet Fe dan sari kacang hijau terhadap kadar hemoglobin pada responden di SMK Taruna Tekno Nusantara Medan tahun 2024.</p>Mirna Yani HarahapSisca DevyDewi PangestutiFarah Diba
Copyright (c) 2026 Mirna Yani Harahap, Sisca Devy, Dewi Pangestuti, Farah Diba
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-01251798710.30743/ibnusina.v25i1.974ANALISIS PENGARUH PEMBINAAN PHBS TERHADAP PENGETAHUAN PHBS SISWA SD NEGERI BORONG
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1007
<p>Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan upaya penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan siswa di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembinaan PHBS terhadap pengetahuan siswa di SD Negeri Borong. Desain penelitian yang digunakan adalah kuasi-eksperimental dengan pendekatan <em>pre-test</em> dan <em>post-test</em>, melibatkan 96 siswa yang dipilih melalui metode <em>purposive sampling</em>. Peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pembinaan langsung dan tidak langsung. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor <em>post-test</em> pada kedua kelompok, dengan peningkatan lebih tinggi pada kelompok pembinaan langsung. <em>Uji Wilcoxon</em> menunjukkan perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi (p<0,05). Sementara itu, <em>uji Mann-Whitney</em> menunjukkan bahwa metode pembinaan langsung lebih efektif dibandingkan metode tidak langsung, meskipun perbedaannya tidak signifikan secara statistik (p>0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa pembinaan PHBS efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa, sehingga implementasinya di sekolah perlu dioptimalkan untuk mendukung pembentukan perilaku hidup sehat.</p>Andi Muhammad Adlan Naufal LipuRahadi Arie HartokoSyatirah JalaluddinRauly RahmadhaniDarussalam Syamsuddin
Copyright (c) 2026 Andi Muhammad Adlan Naufal Lipu, Rahadi Arie Hartoko, Syatirah Jalaluddin, Rauly Rahmadhani, Darussalam Syamsuddin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-012519910710.30743/ibnusina.v25i1.1007HSP70 EXPRESSION AND BETHESDA CLASSIFICATION IN BUCCAL MUCOSAL CELLS OF RESIDENTS NEAR MEDAN LANDFILL
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1056
<p>Chronic exposure to pollutants generated from landfill environments may induce oxidative and genotoxic stress in oral epithelial cells, while Heat Shock Protein 70 (HSP70) functions as a key cellular chaperone involved in maintaining proteostasis and mediating adaptive responses to environmental stressors. This study aimed to evaluate the association between HSP70 expression and the Bethesda 2014 cytological classification in buccal mucosal cells of residents living in proximity to the Terjun landfill in Medan, Indonesia. A cross-sectional analytical design was employed involving 100 adult participants, comprising 24 individuals residing within ≤1–3 km of the landfill and 76 residing ≥3 km away. Buccal epithelial samples were collected using sterile cytobrushes, examined using Papanicolaou staining, and assessed immunocytochemically for HSP70 expression using the Immunoreactive Score (IRS), categorized as low (≤4) or high (>4). Statistical analysis was performed with Fisher’s Exact Test at a significance level of p<0.05. The results demonstrated that 98% of samples were classified as NILM and 2% as ASC-US, with high cytoplasmic HSP70 expression identified in 5% of samples, predominantly among the exposed group; however, a statistically significant association was observed between HSP70 expression and Bethesda classification. In conclusion, the overall low HSP70 expression with slight elevation among exposed individuals suggests early adaptive epithelial responses to chronic pollutant exposure, supporting the potential role of HSP70 as a noninvasive biomarker for monitoring environmentally induced epithelial stress.</p>RamadansyahT. Kemala IntanNadjib Dahlan LubisCausa Trisna Mariedina
Copyright (c) 2026 Ramadansyah, T. Kemala Intan, Nadjib Dahlan Lubis, Causa Trisna Mariedina
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-0125110811510.30743/ibnusina.v25i1.1056PERBEDAAN PERILAKU VAGINAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PATOLOGIS PADA MAHASISWI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN NON FAKULTAS KEDOKTERAN
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1040
<p>Lebih 75% dari seluruh wanita di dunia akan mengalami keputihan paling sedikit sekali seumur hidup dan sebanyak 45% akan mengalami 2 kali keputihan atau lebih. Faktor pencetus keputihan dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor infeksi dan faktor non-infeksi. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui perbedaan perilaku <em>vaginal hygiene</em> dengan kejadian keputihan patologis pada mahasiswi. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik dengan desain studi <em>cross sectional</em>. Analisis pada penelitian menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji <em>chi square</em> atau dengan <em>uji alternative fisher exact test</em>. Hasil penelitian menunjukkan Angka kejadian keputihan patologis pada fakultas kedokteran sebanyak 32 responden (61,5%) dan pada fakultas non-kedokteran sebanyak 36 responden (69,2%), mayoritas pengetahuan vaginal hygiene dengan kategori baik berada pada fakultas kedokteran sebanyak 41 responden (78,8%), mayoritas tingkat sikap vaginal hygiene yang baik berada pada fakultas kedokteran sebanyak 45 responden (86,5%), Mayoritas tindakan <em>vaginal hygiene</em> yang baik berada pada fakultas kedokteran sebanyak 39 responden (75%). Dalam uji <em>chi square</em>, ditemukan bahwa terdapat perbedaan tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan <em>vaginal hygiene</em> dengan kejadian keputihan pada mahasiswi fakultas kedokteran dan fakultas non-kedokteran (p=0,000).</p>Afri AniMayasari RahmadhaniRosa Zorayatamin DamanikFarah Diba
Copyright (c) 2026 Afri Ani, Mayasari Rahmadhani, Rosa Zorayatamin Damanik, Farah Diba
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-0125115516110.30743/ibnusina.v25i1.1040PROFIL HEMATOLOGI PADA INFEKSI VIRUS DENGUE DI RS PKU MUHAMMADIYAH WONOSARI YOGYAKARTA
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1038
<p>Demam berdarah merupakan penyakit demam akut yang disebabkan virus dengue (DENV), yaitu penyakit Flavivirus yang ditularkan nyamuk. Menurut Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia sebanyak 0,64% dengan prevalensi terbanyak terdapat di Provinsi Papua Tengah (3,90%). Di Kabupaten Gunung Kidul angka kesakitan DBD mencapai 245 per 100.000 penduduk di tahun 2024. Variasi dalam parameter hematologi dan biokimia seperti jumlah trombosit, kadar hematokrit, jumlah leukosit, dan jumlah limfosit dikaitkan dengan infeksi dengue. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran profil parameter pemeriksaan hematologi pada infeksi virus Dengue. Penelitian merupakan penelitian observasional dengan desain <em>cross sectional</em> yang diambil dari data sekunder pasien suspek Dengue yang dilakukan pemeriksaan Serologi Dengue, diambil secara keseluruhan dari data pemeriksaan laboratorium RS PKU Muhammadiyah Wonosari Januari-Desember 2024 sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Dari data pemeriksaan laboratorium hematologi RS PKU Muhammadiyah didapatkan sebanyak 61 pasien dengan infeksi virus dengue yang terdiri dari 26 pasien laki-laki (42,6 %) dan 35 pasien perempuan (57,4%), dengan median umur 11 tahun. Profil hematologi pada infeksi virus Dengue cenderung didapatkan leukopenia dan trombositopenia. Terdapat perbedaan signifikan secara statistik beberapa nilai parameter hematologi antara subjek perempuan dan laki-laki juga antara subjek anak dan dewasa. Angka trombosit lebih rendah pada subjek laki-laki, sedangkan nilai limfosit, angka trombosit, lebih rendah pada subjek dewasa. Profil ini dapat sebagai panduan dalam membantu mendiagnosis, memantau klinis dan tingkat keparahan pada pasien dengan infeksi virus Dengue.</p>Prita Murani NugrahetiNabila NabilaUtami Mulyaningrum
Copyright (c) 2026 Prita Murani Nugraheti, Nabila Nabila, Utami Mulyaningrum
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-0125116217110.30743/ibnusina.v25i1.1038FAKTOR RISIKO KEJADIAN MALARIA DI DESA BAGAN KUALA KECAMATAN TANJUNG BERINGIN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI TAHUN 2023
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1016
<p>Malaria merupakan penyakit infeksi yang ditularkan melalui gigitan nyamuk <em>Anopheles</em> dan masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang mempengaruhi kejadian malaria di Desa Bagan Kuala, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan <em>case control study</em>, melibatkan responden positif malaria sebagai kelompok kasus dan responden negatif malaria sebagai kelompok kontrol. Data primer diperoleh melalui kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji <em>Chi-square</em> atau uji <em>Fisher Exact</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan sekitar rumah (p = 0,196), kondisi fisik rumah (p = 0,053), serta perilaku pencegahan malaria (p = 0,396) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian malaria (p > 0,05). Karakteristik responden menunjukkan sebagian besar berusia 26–35 tahun (28,1%), berjenis kelamin perempuan (54,6%), dan bekerja sebagai ibu rumah tangga (34,3%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel lingkungan, kondisi fisik rumah, dan perilaku pencegahan tidak terbukti sebagai faktor risiko pada wilayah penelitian, sehingga kemungkinan terdapat faktor lain yang berkontribusi terhadap penularan malaria di Desa Bagan Kuala.</p>Rosmiati KaharudinRamadhan BestariDewi PangestutiRosa Zorayatamin Damanik
Copyright (c) 2026 Rosmiati Kaharudin, Ramadhan Bestari, Dewi Pangestuti, Rosa Zorayatamin Damanik
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-0125117218110.30743/ibnusina.v25i1.1016FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JUMLAH LIMFOSIT CD4 SEBELUM TERAPI PADA PASIEN HIV DI KLINIK VCT MEKAR SARI PMI PROVINSI RIAU
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/806
<p><em>Human Immunodeficiency Virus</em> (HIV) adalah virus <em>Ribonucleic Acid</em> (RNA) yang secara spesifik menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, ditandai dengan penurunan jumlah limfosit <em>Cluster of Differentiation 4</em> (CD4), sehingga tubuh menjadi rentan terhadap infeksi. Jumlah limfosit CD4 digunakan sebagai indikator utama tahap perkembangan infeksi HIV. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah limfosit CD4 sebelum terapi antiretroviral (ARV) pada pasien HIV di Klinik <em>Voluntary Counseling and Testing</em> (VCT) Mekar Sari Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Riau dengan desain <em>cross-sectional</em> dan analitik kuantitatif. Analisis data menggunakan program SPSS dengan uji <em>Mann Whitney</em> dan uji <em>one-way ANOVA</em>. Data dari 90 pasien HIV menunjukkan bahwa 87,8% adalah laki-laki, 54,4% berusia 25-49 tahun, 67,8% berada pada stadium klinis I, dan 60% terinfeksi melalui hubungan seksual tidak aman. Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia, stadium klinis, dan jalur transmisi memiliki hubungan signifikan dengan jumlah limfosit CD4 (p<0,05), sementara jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan signifikan (p>0,05). Simpulan, usia lanjut, stadium klinis yang tinggi, dan jalur transmisi melalui <em>Intravenous Drug User</em> (IDU) berkaitan dengan rendahnya jumlah limfosit CD4 pada pasien HIV.</p>Nadya Fitri AnantaSuyanto Suyanto
Copyright (c) 2026 Nadya Fitri Ananta, Suyanto Suyanto
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-052026-01-0525120120910.30743/ibnusina.v25i1.806HUBUNGAN PENYULUHAN KESEHATAN SADARI DENGAN PENGETAHUAN DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1074
<p>Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling sering menyerang perempuan, sementara tingkat pengetahuan mengenai deteksi dini masih tergolong rendah, terutama di Indonesia. Pengetahuan tentang deteksi dini kanker payudara melalui Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) berperan penting dalam upaya pencegahan dan penemuan kasus secara dini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penyuluhan kesehatan tentang SADARI terhadap peningkatan pengetahuan deteksi dini kanker payudara pada mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Penelitian ini menggunakan desain <em>quasi experiment</em> dengan rancangan <em>one group pretest–posttest</em> yang melibatkan 83 mahasiswi kedokteran. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, dengan analisis data menggunakan uji Wilcoxon karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan tingkat pengetahuan responden setelah diberikan penyuluhan kesehatan tentang SADARI. Uji <em>Wilcoxon</em> menunjukkan perbedaan yang bermakna antara skor pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan tentang SADARI berperan dalam meningkatkan pengetahuan deteksi dini kanker payudara.</p>MardiahAbd RahmanHenny FauziahRahadi Arie HartokoDarussalam Syamsuddin
Copyright (c) 2026 Mardiah, Abd Rahman, Henny Fauziah, Rahadi Arie Hartoko, Darussalam Syamsuddin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-072026-01-0725122122810.30743/ibnusina.v25i1.1074PERBEDAAN TEKNIK CUCI TANGAN PAKAI SABUN DI KALANGAN MAHASISWA
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1076
<p>Cuci tangan pakai sabun (CTPS) merupakan salah satu indikator penting dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang efektif mencegah penularan penyakit seperti diare dan ISPA. Namun, tingkat kepatuhan terhadap praktik CTPS yang benar masih rendah, termasuk di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan teknik CTPS antara mahasiswa kedokteran dan non-kedokteran. Penelitian dilakukan dengan desain analitik observasional potong lintang pada 75 mahasiswa di Jakarta menggunakan instrumen <em>checklist</em> CTPS sesuai standar World Health Organization (WHO). Data dianalisis menggunakan uji <em>Kruskal-Wallis</em> dan <em>Mann-Whitney</em>. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan teknik CTPS antar jurusan (p<0,001), dengan mahasiswa kedokteran memiliki nilai teknik CTPS tertinggi dibandingkan mahasiswa eksakta dan sosial. Uji lanjutan juga menunjukkan perbedaan signifikan antara kedokteran dengan eksakta (p=0,001) dan sosial (p=0,000), tetapi tidak terdapat perbedaan signifikan antara mahasiswa eksakta dan sosial (p=0,171). Simpulan dari penelitian ini adalah mahasiswa kedokteran memiliki penguasaan teknik CTPS yang lebih baik, didukung oleh pemahaman dan pelatihan yang lebih intensif. Temuan ini menunjukkan pentingnya edukasi teknik CTPS yang tepat untuk meningkatkan perilaku higienis di kalangan mahasiswa dan masyarakat luas.</p>Ayesha Azwa SabriyaArlends Chris
Copyright (c) 2026 Ayesha Azwa Sabriya, Arlends Chris
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-072026-01-0725122923610.30743/ibnusina.v25i1.1076ESTIMASI TINGGI BADAN BERDASARKAN ANALISA SEFALO-FASIAL PADA SUKU TAMIL DI KOTA MEDAN
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1073
<p>Identifikasi sisa-sisa kerangka sangat penting dalam praktik medikolegal. Selain jenis kelamin, usia, dan garis keturunan, tinggi badan merupakan karakteristik biologis yang menggambarkan ciri seseorang. Tetapi, terkadang hanya sisa-sisa kerangka sefalo-fasial yang tersisa. Studi ini memperkirakan tinggi badan dengan menggunakan 4 pengukuran sefalo-fasial (lingkar kepala, lebar bizigomatik, lebar bigonial, dan tinggi wajah morfologis) pada 100 orang Tamil (50 laki-laki, 50 perempuan) yang berusia 21 hingga 30 tahun. Ukuran tinggi badan dan sefalo-fasial laki-laki lebih besar daripada perempuan (p<0,05). Korelasi antara tinggi badan dan dimensi sefalo-fasial dinilai menggunakan uji alternatif Spearman. Korelasi antara dimensi sefalo-fasial dan tinggi badan pada suku Tamil menunjukkan korelasi yang sangat lemah untuk lingkar kepala dan lebar bigonial pada laki-laki, serta tinggi wajah morfologis pada kedua jenis kelamin. Selain itu, terdapat korelasi yang lemah untuk lingkar kepala dan lebar bigonial pada perempuan dan lebar bizigomatik pada laki-laki dan perempuan. Satu-satunya pengukuran sefalo-fasial yang menunjukkan korelasi signifikan dengan tinggi badan pada perempuan adalah lebar bizigomatik (r=0.307; p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pada demografi perempuan Tamil di Kota Medan, tinggi badan dapat diprediksi menggunakan persamaan regresi linier yang diturunkan dari lebar bizigomatik.</p>Saharnauli J. Verawaty SimorangkirErvina Julien Hotmangiring SitanggangTegar Kurnia Putra LahaguMurniaty Rovegy Gloria br. LimbongSufida
Copyright (c) 2026 Saharnauli J. Verawaty Simorangkir, Ervina Julien Hotmangiring Sitanggang, Tegar Kurnia Putra Lahagu, Murniaty Rovegy Gloria br. Limbong, Sufida
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-092026-01-0925123724610.30743/ibnusina.v25i1.1073EFEKTIVITAS EDUKASI TABIR SURYA TERHADAP PENGETAHUAN PEDAGANG PASAR SARINONGKO PRINGSEWU
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1078
<p>Pedagang pasar, merupakan kelompok yang rentan terhadap paparan sinar ultraviolet (UV) karena aktivitas mereka yang sebagian besar dilakukan di luar ruangan tanpa perlindungan yang memadai. Paparan sinar UV bersumber utama dari matahari yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai masalah kulit seperti kemerahan, penuaan dini, hingga risiko kanker kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis perbedaan tingkat pengetahuan tentang tabir surya yang dilakukan kepada pedagang di Pasar Sarinongko Pringsewu sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Penelitian ini menggunakan studi analitik kuasi eksperimental dengan desain <em>one group pretest-posttest</em>. Sebanyak 80 pedagang dipilih menjadi responden melalui teknik <em>consecutive non-random sampling.</em> Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berisi 15 pertanyaan yang diberikan sebelum dan sesudah intervensi edukasi yang dilakukan secara langsung dengan media <em>leaflet</em>. Analisis data dengan menggunakan <em>Statistical Product and Service Solutions </em>(SPSS) versi 29, Uji statistik <em>Wilcoxon Signed-Rank</em> menunjukkan nilai (p<0,05) dengan <em>effect size</em> yang tinggi (r = 0,83), hal ini mengindikasikan bahwa edukasi mengenai tabir surya efektif meningkatkan pengetahuan pedagang di Pasar Sarinongko Pringsewu tentang pentingnya penggunaan tabir surya sebagai perlindungan terhadap paparan sinar UV. Edukasi dan penyuluhan secara rutin sangat dianjurkan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman terkait tabir surya.</p>Qatrunnada Jasmine JauzaIrene Dorthy Santoso
Copyright (c) 2026 Qatrunnada Jasmine Jauza, Irene Dorthy Santoso
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-092026-01-0925124725410.30743/ibnusina.v25i1.1078HUBUNGAN ANTARA SIKAP DAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP KEJADIAN STUNTING DI DESA CIGADUNG, KABUPATEN BREBES
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1081
<p>Stunting yakni perawakan tubuh pendek pada anak usia di bawah lima tahun dan secara global masih menjadi masalah malnutrisi kronis pada anak-anak. Asia memiliki persentase stunting tertinggi sebesar 53% dan kejadian stunting di Indonesia masih jauh dari angka yang ditargetkan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara sikap dan pengetahuan ibu terhadap kejadian stunting di Desa Cigadung, wilayah kerja Puskesmas Cikakak. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik, pendekatan <em>cross sectional</em>, dan bersifat korelasional. Sampel penelitian sejumlah 200 orang dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Data penelitian diperoleh menggunakan kuesioner dan pengukuran tinggi badan anak secara langsung. Uji analisis menggunakan uji korelasi <em>Rank Spearman</em>. Hasil penelitian menggunakan uji korelasi <em>Rank Spearman</em> bahwa terdapat hubungan antara sikap ibu (ρ = 0.783; p= 0.000) dan pengetahuan ibu (ρ = 0.936; p = 0.000) dengan kejadian stunting. Kesimpulannya, terdapat hubungan antara sikap dan pengetahuan ibu terhadap kejadian stunting di Desa Cigadung, Wilayah Kerja Puskesmas Cikakak.</p>Vernika Angelina PrabandariEni SuhaeniThysa Thysmelia Affandi
Copyright (c) 2026 Vernika Angelina Prabandari, Eni Suhaeni, Thysa Thysmelia Affandi
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-092026-01-0925125526610.30743/ibnusina.v25i1.1081GAMBARAN HASIL SITOLOGI BIOPSI ASPIRASI JARUM HALUS PADA BENJOLAN LEHER DI RS SRI PAMELA TEBING TINGGI TAHUN 2021-2025
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1100
<p>Diagnosa benjolan di leher memiliki kendala tersendiri karena adanya beberapa organ di leher. Kasus peradangan seperti tuberkulosa maupun keganasan yang bermanifestasi pada leher semakin meningkat. Pemeriksaan sitologi leher yang direkomendasikan untuk diagnostik pra bedah yaitu biopsi aspirasi jarum halus. Pemeriksaan ini minim resiko dan dapat memberikan hasil diagnosa lebih cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil sitologi biopsi aspirasi jarum halus benjolan leher pasien Rumah Sakit Sri Pamela dari tahun 2021-2025. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode total sampling kasus di Patologi Anatomi dari Januari 2021- Desember 2025. Benjolan pada leher berjumlah 234 kasus berasal dari kelenjar getah bening yaitu sebanyak 116 kasus (50%), kelejar liur 10 kasus (4%), jaringan lunak 22 kasus (9%), Kelenjar tiroid 65 kasus (28%), dan organ lainya 21 kasus (9%). Hasil sitologi jinak yaitu 217 kasus (92,7%), sedangkan ganas 17 kasus (7,3%). Jenis diagnosa sitologi paling banyak yaitu limfadenitis TB yaitu sebanyak 56 kasus (20%). Jumlah Kasus keganasan didapati dari metastase 12 kasus (5,3%) dan keganasan dari tiroid 5 kasus (2,14%). Kesimpulan penelitian adalah benjolan yang paling banyak dijumpai pada leher adalah limfadenitis tuberkulosis. Kasus keganasan terbanyak adalah metastasis karsinoma dan <em>colloid goiter</em> adalah tumor jinak terbanyak.</p>Suryani Eka Mustika
Copyright (c) 2026 Suryani Eka Mustika
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-152026-01-1525126727410.30743/ibnusina.v25i1.1100HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN PANJANG, LEBAR DAN TINGGI LENGKUNG KAKI ANAK USIA 12-15 TAHUN
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1107
<p>Indeks massa tubuh sering digunakan sebagai acuan dalam pengkategorian berat badan. Peningkatan indeks massa tubuh mempengaruhi tinggi lengkung telapak kaki dan menyebabkan peningkatan tekanan telapak kaki yang dapat mempengaruhi ukuran dan dimensi kaki terutama panjang dan lebar kaki. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan panjang, lebar, dan tinggi lengkung telapak kaki. Metode penelitian adalah analitik dengan desain <em>cross sectional study</em> dengan tehnik <em>stratified random sampling.</em> Subjek penelitian anak usia 12-15 tahun dengan jumlah sampel 81 anak. Panjang dan lebar kaki diukur dengan penggaris, tinggi lengkung telapak kaki dengan <em>footprint </em>yaitu <em>Staheli Index</em>. Hasil pengukuran dalam mean, median, standar deviasi, nilai maksimum dan minimum. Hubungan dengan menggunakan uji <em>Spearman Correlation</em>. Hasil penelitian diperoleh usia terbanyak 12 tahun sebanyak 23 anak (28,4%), jenis kelamin terbanyak perempuan 41 anak (50,6%), indeks massa tubuh yang terbanyak indeks massa tubuh normal sebanyak 33 anak (40,7%). Rata-rata panjang, lebar dan tinggi lengkung telapak kaki pada anak dengan indeks massa tubuh <em>overweight</em> dan obesitas memiliki rata-rata lebih besar dibandingkan anak dengan indeks massa tubuh normal. Uji <em>Spearman Correlation</em> p<0.05. Kesimpulan: terdapat hubungan signifikan indeks massa tubuh dengan panjang, lebar dan tinggi lengkung telapak kaki. </p>Saadatur Rizqillah PasaribuSylvia AisyaNondang Purnama SiregarWan Muhammad IsmailVani Gita PertiwiAthika AdnaniRifqi Hamdani Pasaribu
Copyright (c) 2026 Saadatur Rizqillah Pasaribu, Sylvia Aisya, Nondang Purnama Siregar, Wan Muhammad Ismail, Vani Gita Pertiwi, Athika Adnani, Rifqi Hamdani Pasaribu
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-202026-01-2025128629410.30743/ibnusina.v25i1.1107TINJAUAN NARATIF : PATOFISIOLOGI OTITIS MEDIA SEROSA TERKAIT PERAN DISFUNGSI TUBA EUSTACHIUS
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1014
<p>Otitis media serosa (OME) merupakan kondisi peradangan telinga tengah tanpa tanda infeksi akut yang ditandai dengan adanya efusi persisten. Disfungsi tuba Eustachius (TE) berperan penting dalam patogenesis OME karena mengganggu ventilasi dan drainase telinga tengah. Artikel ini bertujuan menjelaskan peran disfungsi TE dalam patofisiologi OME berdasarkan temuan ilmiah terbaru. Kajian dilakukan melalui penelusuran literatur di PubMed dan Google Scholar (2021–2025) menggunakan kata kunci “otitis media serosa” dan “disfungsi tuba Eustachius”. Delapan artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara deskriptif. Seluruh studi menunjukkan hubungan kuat antara disfungsi TE dan OME. Faktor obstruktif seperti hipertrofi adenoid, deviasi septum, dan massa sinonasal menurunkan ventilasi telinga tengah, sedangkan faktor non-obstruktif seperti refluks gastroesofageal dan infeksi SARS-CoV-2 memperburuk fungsi TE melalui mekanisme inflamasi. Intervensi medis dan bedah terbukti memperbaiki fungsi TE serta menurunkan efusi, meski beberapa kasus memerlukan pendekatan multimodal. Disfungsi TE merupakan faktor sentral dalam patogenesis OME melalui kombinasi mekanisme obstruktif dan inflamasi. Pemahaman mendalam tentang proses ini penting untuk menentukan terapi komprehensif dan mencegah kekambuhan.</p>Rona Nasywa MahiraBudi HernawanSri Dewi AstutikChelsa Destra Putri WinarnoCinta Nurul Husna Putri SuharyonoAura Lintang Zahra
Copyright (c) 2026 Rona Nasywa Mahira, Budi Hernawan, Sri Dewi Astutik, Chelsa Destra Putri Winarno, Cinta Nurul Husna Putri Suharyono, Aura Lintang Zahra
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-01251889810.30743/ibnusina.v25i1.1014RESISTENSI ANTIBIOTIK DIPENGARUHI OLEH BIOFILM PADA PENGOBATAN OTITIS MEDIA AKUT: TINJAUAN NARATIF
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1041
<p>Otitis media akut (OMA) adalah infeksi telinga yang umum terjadi pada anak-anak dengan gejala seperti rasa sakit, demam, dan gangguan pendengaran yang dapat mempengaruhi kualitas hidup. Meskipun antibiotik telah menjadi pilihan pengobatan utama selama ini, banyak kasus yang tidak sembuh sepenuhnya. Salah satu penyebab masalah ini adalah adanya biofilm, yaitu kumpulan bakteri yang terorganisir dalam lapisan pelindung membuatnya kebal terhadap antibiotik dan sistem kekebalan tubuh inang. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa biofilm berperan penting dalam kegagalan terapi dan kekambuhan OMA. Mekanisme yang terlibat meliputi penghalang penetrasi obat, keberadaan sel persister, heterogenitas metabolik bakteri, dan transfer gen resistensi. Dampak klinis meliputi infeksi yang sering terjadi kembali, otitis media kronis, perforasi membran timpani, hingga gangguan perkembangan bicara dan kognitif pada anak-anak. Keterbatasan terapi antibiotik mendorong pengembangan pendekatan baru, seperti penggunaan agen antibiofilm non-antibiotik (misalnya N-asetilsistein), terapi faga, penghantaran obat menggunakan nanopartikel, serta pendekatan imunomodulasi. Selain itu, inovasi dalam diagnostik non-invasif dan terapi berbasis cahaya juga menunjukkan potensi yang menjanjikan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang peran biofilm, pengelolaan OMA perlu beralih dari sekadar mengandalkan antibiotik menjadi pendekatan multimodal yang lebih menyeluruh. Penerapan terapi inovatif diharapkan dapat mengurangi angka kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup anak-anak yang terdampak.</p>Budi HernawanMalihatin Nur RohmahMuna Laila ZavaHandika Muhammad BimantoroAnnisa Khusnul TriyuniatiYuke Masaro
Copyright (c) 2026 Budi Hernawan, Malihatin Nur Rohmah, Muna Laila Zava, Handika Muhammad Bimantoro, Annisa Khusnul Triyuniati, Yuke Masaro
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-0125112514010.30743/ibnusina.v25i1.1041PENDEKATAN DIAGNOSIS LESI KISTIK REGIO COLLI
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1036
<p>Lesi kistik di regio colli merupakan temuan klinis yang sering dijumpai dan memiliki variasi etiologi yang luas, mulai dari kelainan bawaan, infeksi dan neoplasma. Penegakan diagnosis yang tepat sangat penting untuk menentukan terapi yang sesuai dan mencegah komplikasi. Tinjauan pustaka naratif ini dilakukan melalui pencarian literatur pada Google Scholar antara tahun 2015–2025 dengan kata kunci: “cystic neck lesion”, “neck cyst”, “diagnostic approach”, “ultrasound”, “CT”, “MRI”, dan “fine needle aspiration”. Kriteria inklusi meliputi artikel yang membahas aspek diagnostik lesi kistik leher pada manusia, berbahasa inggris atau indonesia, dan diterbitkan tahun 2015–2025. Artikel yang tidak relevan, duplikasi, atau tanpa akses teks penuh dikeluarkan. Dari 17.100 artikel, 29 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis secara kualitatif. Pemeriksaan klinis dengan pendekatan lokasi, pencitraan (ultrasonografi/ USG, CT scan, MRI) dan sitopatologi (fine needle aspiration biopsy/ FNAB) memiliki peran komplementer dalam diagnosis lesi kistik di regio colli. Pemeriksaan USG merupakan modalitas pemeriksaan penunjang awal paling efektif, sementara CT scan/MRI memberikan karakterisasi lebih mendalam dan menilai keterlibatan jaringan sekitar. Pemeriksaan FNAB membantu membedakan proses infeksi dan neoplasma, meskipun sensitivitasnya menurun pada lesi yang bersifat kistik. Kombinasi multimodal meningkatkan akurasi diagnostik. Kesimpulan: Pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan data klinis, radiologis, dan sitopatologis disarankan untuk diagnosis komprehensif lesi kistik ldi regio colli.</p>Arini Rizky WijayantiBernadeta Hernik SetiyandariLili Ananta Saputra
Copyright (c) 2026 Arini Rizky Wijayanti, Bernadeta Hernik Setiyandari, Lili Ananta Saputra
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-0125114115410.30743/ibnusina.v25i1.1036APAKAH TRAUMA TUMPUL ABDOMEN DAPAT MENYEBABKAN RUPTUR PADA APPENDIKS YANG BERUJUNG KEMATIAN? SEBUAH LAPORAN KASUS AUTOPSI
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1001
<p>Appendisitis merupakan suatu kondisi emergensi yang sering ditemukan dalam praktik pelayanan kesehatan primer maupun sekunder. Faktor risiko yang menyebabkan terjadinya appendisitis sangat beragam. Keterlambatan pasien di bawa ke rumah sakit dapat menyebabkan komplikasi serius seperti <em>necrotizing fasciitis</em> dan sepsis yang berpotensi menyebabkan kematian akibat infeksi sistemik. Kami melaporkan sebuah autopsi berbasis rumah sakit yang dilakukan Kelompok Jabatan Fungsional Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal, Fakultas Kedokteran, Universitas Riau dan Bidang Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Daerah Riau (Biddokkes Polda Riau) pada seorang anak laki – laki berusia 8 tahun yang telah yang telah dinyatakan meninggal dunia selama 1 hari di Rengat, Riau, Indonesia. Penyebab kematian diduga apendisitis perforasi akibat trauma tumpul abdomen. Hasil autopsi menunjukkan ditemukan <em>Escherichia coli</em> pada cairan rongga perut dan histopatologi appendiks menunjukkan appendisitis supuratif akut dengan perforasi. Penyebab kematian terakhir dipastikan adalah sepsis sekunder akibat appendisitis perforasi, yang disebabkan oleh intervensi bedah yang tertunda.</p>Mohammad Tegar IndrayanaParmita SolehaHeinz Cen PujiantoFadhlina Murhami Harahap
Copyright (c) 2026 Mohammad Tegar Indrayana, Parmita Soleha, Heinz Cen Pujianto, Fadhlina Murhami Harahap
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-0125111612410.30743/ibnusina.v25i1.1001BREAKING THE CYCLE: HOW THROMBOCYTOSIS AMPLIFIES RISKS IN PERIPARTUM CARDIOMYOPATHY WITH SEVERE VALVE DYSFUNCTION
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1068
<p>Peripartum cardiomyopathy (PPCM) is a rare but serious condition involving heart failure with reduced ejection fraction developing late in pregnancy or within five months postpartum. Thrombocytosis may increase thromboembolic risk, and severe functional mitral regurgitation (MR) from left-ventricular dilation further worsens clinical status. A 38-year-old woman, three months postpartum, presented with worsening dyspnea, orthopnea, paroxysmal nocturnal dyspnea, and leg edema. She had hypertension and dyslipidemia. Examination revealed fluid overload and elevated jugular venous pressure. ECG showed sinus tachycardia with ST-T changes, and chest X-ray demonstrated cardiomegaly with pulmonary congestion. Laboratory testing identified thrombocytosis (platelets 627,000/µL). Echocardiography revealed severe LV dilation (LVEDD 63 mm), markedly reduced ejection fraction (21%), grade 3 diastolic dysfunction, severe functional MR, and spontaneous echo contrast. This case illustrates the interaction of PPCM, reactive thrombocytosis, and severe MR, emphasizing the need for thorough cardiac–hematologic evaluation and multidisciplinary management to optimize outcomes.</p>Sidhi LaksonoTonni Zheng
Copyright (c) 2026 Sidhi Laksono, Tonni Zheng
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-012026-01-0125119120010.30743/ibnusina.v25i1.1068INTOKSIKASI ALKOHOL AKUT MENYEBABKAN ASFIXIA: LAPORAN KASUS FORENSIK
https://jurnal.fk.uisu.ac.id/index.php/ibnusina/article/view/1024
<p>Intoksikasi alkohol akut merupakan keadaan klinis akibat konsumsi etanol berlebihan dalam waktu singkat yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran hingga kematian. Kami melaporkan sebuah autopsi berbasis rumah sakit yang dilakukan oleh Kelompok Jabatan Fungsional Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Riau bekerja sama dengan Bidang Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Daerah Riau (Biddokkes Polda Riau) pada seorang laki-laki berusia 41 tahun yang ditemukan meninggal di depan tempat hiburan malam dengan mulut mengeluarkan buih putih. Laporan ini bertujuan untuk menyoroti peran pemeriksaan forensik dan toksikologi dalam menegakkan penyebab kematian akibat intoksikasi alkohol akut dengan manifestasi asfiksia yang menonjol. Pemeriksaan luar menunjukkan tanda asfiksia berupa sianosis dan kongesti konjungtiva, disertai buih putih dari mulut dan hidung serta cairan putih dari lubang kemaluan. Pada autopsi ditemukan cairan berbau manis dengan iritasi mukosa lambung, bercak perdarahan pada jantung, pelebaran pembuluh darah otak, dan cairan berbusa pada paru-paru. Analisis toksikologi menunjukkan kadar etanol darah perifer 167,459 mg/dL dan darah jantung 194,867 mg/dL, yang termasuk dalam rentang intoksikasi. Mekanisme kematian diduga akibat depresi sistem saraf pusat yang menyebabkan paralisis pernapasan dan asfiksia.</p>Mohammad Tegar IndrayanaMaisarah Effajri PutriTrinasti LestariVika MayantiHeinz Cen Pujianto
Copyright (c) 2026 Mohammad Tegar Indrayana, Maisarah Effajri Putri, Trinasti Lestari, Vika Mayanti, Heinz Cen Pujianto
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-01-152026-01-1525127528510.30743/ibnusina.v25i1.1024